Mentarbiyah Dengan Cinta  

Posted by Tajul Arifin bin Che Zakaria


DR. Maisarah Thahir berkata:

Sarana tarbiyah dengan cinta, atau bahasa cinta, atau abcd cinta, ada lapan perkara:

1. Kosa kata cinta
2. Pandang mata cinta
3. Suapan cinta
4. Sentuhan cinta
5. Selimut cinta
6. Pelukan cinta
7. Ciuman cinta
8. Senyum cinta

Pertama: Kosa kata cinta

Berapa kosa kata cinta kita ucapkan kepada anak-anak kita?
Dalam sebuah kajian dikatakan: seorang anak dari bayi sampai ABG telah mendengar tidak kurang dari 16 ribu kosa kata buruk, namun, ia hanya mendengar ratusan kosa kata baik!
Image yang tergambar dalam pikiran seorang anak tentang dirinya merupakan salah satu hasil dari omongan yang didengarnya, seakan sebuah kosa kata adalah sebuah kuas di tangan seorang pelukis, bisa jadi ia melukiskannya dengan warna hitam, bisa juga melukiskannya dengan berbagai warna indah. Jadi, kosa kata-kosa kata yang ingin kita ucapkan kepada anak-anak kita, harus yang baik, kalau tidak baik, jangan kita ucapkan
Sebagian orang tua, sebagian kosa katanya (merendahkan, menjelek-jelekkan, merendahkan ciptaan Allah), akibatnya terhadap anak adalah (mengurung diri, permusuhan, ketakutan, tidak percaya diri).

Kedua: pandang mata cinta

Jadikan kedua matamu tepat pada kedua mata anakmu, disertai senyuman, dan bergumamlah dengan suara tidak terdengar: “aku mencintaimu wahai si fulan”, 3 atau 5 atau 10 kali, jika hal itu disikapi oleh anakmu celaan, atau merasa aneh, dan ia berkata: “apa yang kamu lakukan wahai ayahku”, maka jawablah: “aku rindu kepadamu wahai fulan”. Jadi, pandangan mata, dan cara ini, mempunyai dampak dan hasil yang luar biasa.

Ketiga: suapan cinta

Cara ini tidak boleh dilakukan kecuali seluruh anggota keluarga berkumpul di satu meja makan. [nasihat: janganlah menempatkan tv di ruang makan], agar terjadi interaksi dan pertukaran pandangan mata. Dan saat menikmati santapan makan, hendaklah orang tua berusaha menyuapkan beberapa suap ke mulut anaknya [dengan catatan, anak kelas V atau VI SD ke atas, pasti merasa bahwa cara ini tidak bisa mereka terima], jika sang anak menolak menerima suapan itu di mulutnya, maka letakkan pada sendok atau piringnya. Hendaklah saat menyuapi disertai dengan pandangan mata cinta diiringi senyuman, kosa kata indah dan suara pelan: “demi Allah wahai anakku, saya sangat ingin menyuapimu dengan suapan ini, ini adalah kurir cintaku wahai sayangku”, setelah ini, pasti dia mau menerimanya.

Keempat: sentuhan cinta

DR. Maisarah berkata: saya naihatkan agar orang tua memperbanyak sentuhan terhadap anaknya. Bukan sebuah kebijakan jika seorang ayah berbicara dengan anaknya pada dua kursi yang berbeda. Sebaiknya sang anak ada di sampingnya, dan hendaklah tangan sang ayah menempel di bahu anaknya (tangan kana nada di bahu kanan). Kemudian DR. Maisarah menjelaskan cara nabi SAW menghadapi lawan bicaranya: “Nabi Muhammad SAW menempelkan kedua lututnya dengan lutut lawan bicaranya, dan meletakkan kedua tangan beliau di atas kedua paha lawan bicaranya, dan posisi menghadap secara penuh”. Sekarang terbukti bahwa sekedar sentuhan seseorang merasa dicintai dan kehangatan hubungan meningkat ke puncak tertinggi. Karenanya, jika hendak berbicara dengan sang anak, atau hendak menasihatinya, janganlah duduk berjauhan, sebab, dengan begini, terpaksa harus bersuara keras, dan [suara keras membuat sang anak lari] dan jika sang anak itu laki-laki, maka peganglah bagian pahanya, dan jika sang anak perempuan, maka peganglah bahunya, dan peganglah tangannya dengan penuh kasih saying, letakkan kepala sang anak pada bahu sang ayah, agar ia merasa dekat, aman, dan tersayang, sambil katakana: “Aku bersamamu, aku akan memohonkan pengampunan untukmu jika kamu bersalah”.
Kelima: selimut cinta
Hendaklah setiap malam seorang ayah atau ibu melakukannya, jika sang anak telah tidur, maka datangilah ia dan ciumlah, niscaya dia akan merasakan kehadiranmu, karena jenggot wajahmu yang biasa engkau bercanda dengannya, jika ia membuka satu matanya sedangkan yang lainnya masih meram dan ia berkata: “engkau datang wahai ayahku?”
Maka katakana kepadanya: “Betul, aku datang wahai sayangku!”. Dan selimutilah dia
Dalam pemandangan ini, sang anak akan berada dalam kondisi setengah sadar antara tidur dan tidak, dan pemandangan tadi akan tetanam dalam pikirannya, dan saat ia terbangun pada esok harinya, ia akan teringat bahwa semalam ayahnya datang dan melakukan ini dan itu.
Dengan perbuatan seperti ini, menjadi dekatlah jarak antara orang tua dan anak dan kita wajib dekat dengan anak dengan pisik dan hati kita.

Keenam: dakapan cinta

Janganlah kalian pelit dengan dekapan terhadap anak. Sebab, keperluan anak kepada dekapan sama dengan keperluannya kepada makanan, minuman dan udara, setiap kali ada yang terkonsumsi, niscaya diperlukan yang lainnya.

Ketujuh: ciuman cinta

Rasulullah SAW mencium salah seorang cucunya; Hasan atau Husain. Perbuatan ini terlihat oleh al-Aqra’ bin Habis, maka ia berkata: “Apakah engkau mencium anak-anak kecil?!! Demi Allah, saya mempunyai sepuluh anak, tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka!! Maka Rasulullah SAW bersabda: “Kalau saja aku mempunyai kemampuan untuk mencabut kasih sayang dari dalam hatimu”
Wahai para orang tua, ciuman kepada anak merupakan satu ekspresi kasih sayang, betul, kasih sayang yang menjadi focus ajaran Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan bahwa ia merupakan rahasian ketertarikan manusia kepada suatu keyakinan, dan jika kasih sayang ini hilang dari perilaku kita terhadap anak-anak kita, berarti kita telah menjauhkan mereka dari kita, baik kita sebagai perseorangan maupun kita sebagai para da’i, da’i Islam.

Kedelapan: Senyum cinta

Inilah sarana-sarana cinta, siapa yang menerapkannya, niscaya mendapatkan cinta dari mereka yang berinteraksi dengannya.

Sebagian orang tua saat dinasihati demikian berkomentar: “Kami tidak terbiasa”.
Subhanallah!! Adakah kebiasaan itu Qur’an yang turun dari langit yang kita tidak bisa merubahnya!!

Sarana-sarana ini ibarat air, dengannya tanaman cinta akan tumbuh di dalam hati. Dan jika kita ingin dibaiki oleh anak kita, baikilah anak kita, dan sayangilah mereka.
Perlu diketahui bahwa cinta tidak sama dengan tutup mata atau membiarkan kesalahan.

Hikmat itu permata yg hilang daripada mukmin...  

Posted by Tajul Arifin bin Che Zakaria

Pagi tadi Selasa 28 Jan saya menonton MHI di TV3. Menariknya ialah Kaedah Mokhdar yang wajar kita yang berkecimpung di medan dakwah mengetahui dan mempelajarinya sebagai wasilah dakwah. Alat ini amat penting dikuasai untuk kepentingan dakwah..
Cuba baca di bawah, saya petik dari blog berkenaan:-
http://kaedahmokhdar.blogspot.com/2008/01/apa-sebenarnya-kaedah-mokhdar.html

Kaedah Mokhdar adalah suatu kaedah yang amat mudah yang bakal menghasilkan kekuatan memori yang luar biasa terhadap input-input mathematical yang menjadi antara teras penting di dalam pemikiran sains dan matematik, dan menghasilkan kelajuan akses yang luar biasa terhadap input-input mathematical dan input-input lain yang tersimpan di dalam minda.

Kekuatan memori yang luar biasa ini menghasilkan minda baru yang antaranya boleh dilihat seperti berikut : 1. Anak kecil seawal usia dua ke tiga tahun yang mampu menguasai fakta matematik asas seperti darab asas. 2. Minda biasa yang mampu mengingat nombor kad pengenalan sepanjang 12 digit dengan hanya seimbas pandang menggunakan masa kurang dari 0.25 saat. Ini bererti segala input di dalam pembelajaran sains (sama ada sains tulis seperti fizik, kimia dan biologi, atau sains lain seperti sejarah, geografi, linguistik dsb) dan matematik (bagi semua cabang matematik) bukan sahaja boleh diingat mudah tetapi juga dapat dianalisa dan diorganisekan dengan jauh lebih mudah. Minda juga jadi lebih fokus kerana ia hanya perlu melakukan tugas memahami apa yang dibaca atau dilakukan tanpa perlu melakukan tugas-tugas menghafal yang menyebabkan kekusutan dan kebekuan minda.

Kelajuan akses yang luar biasa pula menghasilkan kecepatan menyelesaikan masalah, mengambil contoh yang paling mudah, darab sehingga tiga atau empat digit didarab dengan satu digit, seperti 667 × 6 = 4002, atau sehingga dua digit didarab dengan dua digit, seperti 67 × 48 = 3216, boleh dicongak oleh minda biasa secepat kilat tanpa menggunakan apa-apa alat tulis, alat bantuan mengira atau sebagainya, dan tanpa perlu menggunakan apa-apa cara mengira lain selain daripada cara mengira yang biasa diajar di sekolah.

Kecepatan mengira pada kelajuan melebihi kelajuan penggunaan kalkulator, serta tanpa perlu melalui tempoh latihan mengira yang keterlaluan ini mengurangkan beban minda dan tenaga di dalam menguruskan penyelesaian masalah-masalah matematik pada tahap yang lebih tinggi. (Ia mungkin menghasilkan kesan counter-productive jika kemahiran mengira seperti ini hanya mampu diperoleh dengan melakukan aktiviti latih tubi yang luar biasa sehingga mensesiakan masa yang sepatutnya diberi kepada aktiviti kefahaman menerusi bacaan atau latihan untuk subjek-subjek yang jauh lebih penting di dalam pembelajaran sains dan matematik).

Kaedah yang bagi kebanyakan orang dianggap sebagai kaedah membilang secara rengkas ini (setiap sebutan bagi nombor sifar hingga seratus, dengan menggunakan 10 kunci sebutan, hanya menggunakan sebutan satu suku kata sahaja) sebenarnya bidang yang jauh lebih tinggi dan lebih luas dari itu. Didasarkan kepada 10 kunci sebutan tersebut, ditambah dengan lapan sebutan kunci tambahan, merangkumi sebutan untuk input-input yang kompleks dan panjang, menghasilkan daya ingatan dan kelajuan mengakses yang amat luar biasa.

Rumus, fakta, equations, jadual, langkah kerja menyelesaikan masalah, dsb, yang biasanya tidak digalakkan oleh guru-guru untuk dihafal, diingat begitu sahaja tanpa dihafal dalam erti kata yang sebenarnya. Jika input sedemikian yang tidak digalakkan dihafal disebabkan oleh kesukaran menghafalnya boleh diingat begitu sahaja, input-input lain yang perlu dihafal di samping difahami tentulah boleh diingat jauh lebih mudah.

Di dalam perbincangan yang sering menjadi topik hangat sejak lama dulu hingga sekarang ialah, ahli-ahli akademik sering mensifatkan rote learning (belajar dengan banyak menghafal) sebagai kaedah belajar yang ketinggalan zaman dan tidak menghasilkan minda yang berfikir dan kreatif. Ramai pula dari kalangan masyarakat yang menganggap kaedah Mokhdar sebagai sebahagian daripada kaedah rote learning tersebut.

Sebenarnya tanggapan tersebut adalah meleset sama sekali. Kaedah Mokhdar bukanlah suatu kaedah rote learning atau kaedah menghafal. Malah saya tidak suka aktiviti menghafal sama sekali, namun memori mega yang tersimpan di dalam minda orang yang menggunakan kaedah Mokhdar bukanlah diperoleh menerusi rote learning. Ia tersimpan spontan dan berkekalan lama menerusi aktiviti membaca, menulis, membuat latihan, mencuba memahami apa yang dipelajari, dibaca, ditulis, didengar atau sebagainya di dalam proses pembelajaran, dan memori mega ini amat penting di dalam membezakan di antara seorang pelajar yang berjaya atau kurang berjaya.

Gigi Nabi pun istimewa ....  

Posted by Tajul Arifin bin Che Zakaria



Beberapa hari sebelum saya berpindah ke WP Putrajaya, saya ke klinik gigi. Gigi saya 'terserepeh' kerana makan makanan keras. Doktor kata tolonglah, kita ni umur dah 40an, tak kuat macam zaman 20an dulu. Insaf saya bila dengar nasihat ikhlas doktor. Memang terasa bila dah masuk umur 40an ni rasa ada beberapa perubahan pada fizikal maupun spiritual, Allah sahaja yang maha mengetahui... 'kubur dah kata mari dan rumah dah kata pergi.'

Gigi yang 'sopek' ditampal dan terlanjur pula, saya lantas minta dia bersihkan plak yang ada. Maklumlah kalau tak bersebab payah nak ke klinik.

Selesai semuanya, saya bertanya soalan nakal kepada doktor... Saya kata: "Saya terbaca dalam kitab yang membicarakan muwasofat Nabi atau sifat-sifat fizikal Nabi saw ada menyatakan bahawa kedudukan atau susunan gigi nabi renggang atau jarang...kenapa agaknya ya?" Lantas doktor yang merawat saya termenung sejenak -entah kenapa saya pun tak pasti- lalu menjawab..."Itulah istimewanya gigi Nabi saw kerana bila renggang ia payah rosak, makanan yang dimakan tidak terkumpul di celah-celah gigi."

Mendengar jawapan doktor yang merawat gigi saya tadi, saya semakin insaf dan yakin terhadap kenabian Nabi kita Muhammad saw. Memang dia insan istimewa.... Solluu 'Alan Nabiy....

Alhamdulillah yang dengan nikmatNya sempurnalah segala kebaikan  

Posted by Tajul Arifin bin Che Zakaria


Perutusan daripada Dr Mohd Bade’ Mursyidul Am IM

Ikhwah dan akhawat yang dimuliakan,

Salamullah Alaikum warahmatuhu wabarakatuhu..
Ini adalah perutusan pertama, saya tujukan kepada kalian setelah kalian curahkan thiqah kepada saya. Kalian telah menjadikan saya orang yang paling berat menanggung bebanan. Sekalipun Saidina Abu Bakar menyatakan secara tawadhu’, saya nyatakannya dengan sebenarnya: ‘Saya telah dilantik mengetuai kalian, namun saya bukan orang yang terbaik di kalangan kalian, taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah.”.. Kita amat perlu bergantung dengan doa, semoga keberkatannya mengandungi dua kebaikan yang telah disebutkan oleh Rasulullah saw: “Sebaik-baik pemimpin kamu ialah mereka yang kamu doakan untuk mereka dan mereka pula mendoakan untuk kamu.”

Syura, institusi dan thiqah ialah tempat di mana jiwa ikhwah dan akhawat diuji. Syura di sisi kita adalah satu surah daripada surah-surah al-Quran. Ia merupakan satu fardhu dalam Islam dan akhlak amat diperlukan untuk melaksanakannya di semua peringkat dengan menggunapakai instrument terkini bagi menentukan pemilihan berjalan dengan lancar.

Kalian telah menyaksikan contoh yang telah ditunjukkan oleh Mursyid ke tujuh Ustaz Mohd Mehdi Akeef. Beliau telah merealisasikan pendirian berdasarkan kefahaman ini, dan menafikan segala pembohongan ke atas Jamaah yang maha berkat ini. Kita tidak pernah menjawab persoalan yang mengatakan bahawa IM menuntut dilaksanakan demokrasi untuk diadakan pemilihan; bila mereka dapat kuasa maka mereka tidak akan berundur dan ini bukti mereka tidak ikhlas dalam tuntutan tersebut. Kita tidak menulis untuk menjawab sangkaan jahat itu kerana ‘kita adalah kaum yang bekerja’. Pendirian yang diambil itu besar ertinya. Ia telah menghapuskan segala kebatilan dan persepsi jahat berniat untuk menggugat kerukunan Jamaah. Alhamdulillah dengan adanya rukun thiqah pada qiadah, yakin dengan janji Allah, yakin dengan pemeliharaan Allah, yakin dengan kesejahteraan manhaj serta perlaksanaannya, maka Allah telah memelihara kita daripada fitnah sehingga kita dapat merawat kesilapan yang berlaku sebagai penyempurnaan kepada kekurangan dalam suasana yang diliputi oleh kasih sayang. Dalam hal ini kita tidak bertemu dengan ikhwah yang menyakiti ikhwah yang lain dan ta’asub demi kepentingan diri atau hawa nafsunya.

Perkara terpenting ini telah kalian saksikan ianya terlaksana di kalangan qiadah Jamaah yang berkat ini, maka adalah menjadi kemestian juga untuk dilaksanakan di peringkat bawahan. Maka musyawarah (syura) mesti terlaksana juga di dalam usrah-usrah kerana memberi pandangan adalah salah satu rukun untuk pembinaan peribadi muslim yang merdeka dengan niat untuk mendapat keredhaan Allah. Memiliki kebebasan untuk memberi pandangan adalah kemestian kerana ialah salah satu objektif terpenting IM. Pembebasan tanahair tidak berlaku melainkan setelah berlakunya kemerdekaan insan.. Marilah kita mulakan dengan diri kita dahulu. Ayuh kita laksanakan musyawarah di semua peringkat kerana ia memerlukan latihan serta kesabaran untuk mendengar pendapat orang lain. Nasihat itu asas ad-Din dan ia sepatutnya terlaksana di peringkat pimpinan terlebih dahulu.

Ayuh kita sama-sama perbaharui tekad untuk melatih qiadah menanggung bebanan supaya yang terlantik nanti adalah mereka yang berwibawa dan berkelayakan; bermula daripada sof pertama, kemudian diikuti oleh sof kedua dan seterusnya. Sebagai persediaan ia adalah tiga barisan pelapis untuk qiadah. Sesungguhnya mempersiapkan kanak-kanak mumayyiz dengan hukum syara’ khusus membolehkan dia dijadikan imam dalam solat, sekalipun dia belum mukallaf. Ini menunjukkan bahawa mempersiapkan kepimpinan dengan ibadat merupakan objektif yang mesti diletakkan dalam perlaksanaan. Berkata Imam Al-Banna rahimahullah: “Jadilah kalian hamba yang tekun beribadat sebelum dilantik sebagai ketua, nescaya ibadat kamu itu akan menjadikan kamu pemimpin yang terbaik”, kerana di sana ada pendapat mengatakan bahawa kestabilan tidak tercapai melainkan dengan kejumudan dan menolak perubahan sedangkan badan yang sihat ialah badan yang darahnya mengalir dengan baik dan sel-selnya sentiasa berkembang. Bila aliran darah dalam badan terhenti dan sel-sel tidak lagi aktif badan tidak stabil dan ia adalah penyakit yang boleh membawa maut, na’uzubillah.

Inilah Jamaah kalian, dengan kurniaan Allah ia keluar dari fitnah yang melanda dengan lebih sihat dan kuat. Ia akan maju ke depan dengan penuh keazaman di jalan yang sama, di atas asas thawabit (tetap) dan nilai-nilai yang telah ditanam pertamakalinya oleh pengasasnya Imam Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah berpandukan Al-Quran dan As-Sunnah, lalu dituruti pula oleh pemimpin yang mursyid selepasnya. Berbekalkan kesabaran anggota-anggotanhya, Jamaah IM terus segar bergerak maju, berkorban apa sahaja yang dimiliki untuk dakwah ini kekal tinggi dan mulia demi menyebarkan kebaikan ke seluruh pelusuk Negara. Firman Allah: “Dan bagi Allahlah kemuliaan itu, bagi RasulNya dan bagi orang-orang beriman” (Surah Al-Munafiqun:ayat 8)

Allah Maha Besar berhadapan segala kesukaran.. Alhamdulillah di atas segala hal dan setiap keadaan… Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kekeringan Roh...الجفاف الروحي  

Posted by Tajul Arifin bin Che Zakaria



Assalamu'alaikum, kelmarin 19 Jan, saya telah diminta menyampaikan tazkirah selepas solat zohor di pejabat Time Training & Services,tempat kerja saya.Tajuk tazkirah saya ialah الجفاف الروحي
diterjemahkan ke dalam bahasa melayu 'kekeringan roh'.Tajuk ini diambil daripada kitab kecil yg ditulis oleh Syeikh Abdul Hamid Al-Bilali, seorang pendakwah yang dihormati di negara Kuwait. Ia juga pengasas 'Pertubuhan Basyairul Khair'(http://bashayerq8.net/) untuk memulihkan penagih2 dadah di sana. Saya sempat menziarahinya di sana ketika saya dan sahabat2 berkursus di sana pada Feb 2007. Alhamdulillah banyak perkara boleh dipelajari daripada syeikh ini kerana beliau amat prihatin terhadap aspek kerohanian.

Saya percaya ramai di kalangan kita yang amat berhajat kepada tazkirah2 begini dalam suasana dunia yang amat mencabar; dalam hal ini pendakwah tidak terkecuali.

Saya perturunkan di sini point-point penting untuk dihayati bersama:

'Kekeringan roh' bermaksud tidak terkesan atau lemahnya keimanan terhadap semua yang berkait dengan akhirat dari sudut amalan dan pertuturan.

Fenomena yang boleh dikesan adalah:

1. Ketiadaan khusyuk dalam ibadat terutama solat.
2. Keras hati
3. Tidak sensitif dan tiada reaksi positif bila mendengar bacaan Al-Quran dan tazkirah.
4. Tidak merasa cenderong untuk menghadiri halaqah2 ilmu yang mengingatkan tentang akhirat.
5. Sukar menitiskan air mata di kala bersendirian.
6. Tidak sensitif atau menyesal ketika terlepas dari fardhu ain seperti solat.
7. Tidak merasa rindu untuk menziarahi Baitillahil Haram.
8. Terputus dari membaca Al-Quran dan ziarah kubur.
9. Terlalu mengambil ringan terhadap perkara harus (mubah) dan syubuhat.
10.Mengutamakan masjid2 yang solat dan khutbahnya ringkas atau cepat.

Di antara sebab2 berlakunya demikian ialah:

1. Mengabaikan bacaan Al-Quran atau terlalu sedikit membacanya.
2. Tidak beramal dengan isi kandungan Al-Quran.
3. Terlalu banyak melakukan perkara harus sehingga berlaku pengabaian terhadap yang wajib.
4. Lebih banyak mengambil yang mudah terhadap sesuatu perkara yang melibatkan hukum fiqah.
5. Mengabaikan qiamullail (solat malam/ibadat malam)
6. Tidak mengerjakan solat dalam waktunya.
7. Tidak mengerjakan solat berjemaah di masjid
8. Lewat pergi ke masjid untuk solat.
9. Terputus dari menghadiri halaqah2 ilmu tentang bagaimana untuk menjaga dan memelihara hati.
10. Fokus kepada ilmu tertentu sahaja tanpa mengambilberat sudut berkaitan iman dalam ilmu2 itu; seperti politik dsb.
11. Meninggalkan sedaqah sunat dan berpada dengan zakat tahunan sahaja.
12. Tidak menziarahi kubur, orang sakit berat (nak mati) atau hospital.

Semoga tip2 di atas sedikit sebanyak memberi kesedaran kepada kita ke arah membasahkan roh2 yang gersang ini....

wallahu A'lam Bissowaab...

Mursyid Am VIII IKHWAN MUSLIMIN, Dr. Mohd Badi’  

Posted by Tajul Arifin bin Che Zakaria


Dr. Muhammad Badi’ Abdul Majid Saamy, Mursyid Am Ke Lapan bagi jemaah Ikhwan Muslimin.

Pada pukul 11.00 am (5.00 pm waktu Malaysia) tadi, Ikhwan Muslimin telah mengumumkan Mursyid Am barunya iaitu Dr Muhammad Badi’ Abdul Majid Samy, 67 tahun. Beliau adalah Mursyid Am ke lapan bagi jemaah Ikhwan Muslimin yang diasaskan oleh Mursyid Am Pertama, Imam Hasan Al-Banna pada tahun 1928. Dr Muhammad Badi’ menggantikan Mursyid Am Ke Tujuh, Ustaz Mahdi Akef yang tidak berhasrat menyambung jawatannya apabila umurnya melebihi 80 tahun.

Ustaz Mahdi Akef mengumumkan nama Dr Mohd Badi’ Abd Majid Saamy sebagai Mursyid Am Ikhwan Muslimin ke 8 dalam sidang akhbar antarabangsa di Kaherah, Mesir jam 11.00 am (waktu Mesir) tadi.

Dr Muhammad Badi’ dilahirkan pada 7 Ogos 1943 di Al-Mahalla Al-Kubra, negeri Al-Gharbiyah, Mesir. Isteri beliau bernama Sumaiyah Asy-Syanawy, bekas pengetua Madrasah Ad-Dakwah Al-Islamiyah di Bani Suef, Mesir dan anak kepada Haji Muhammad Ali Asy-Syanawy yang merupakan generasi awal Ikhwan Muslimin dan termasuk yang dijatuhkan hukuman mati oleh kerajaan taghut Mesir dibawah Presiden Jamal Abdul Nasir pada tahun 1954 tetapi kemudiannya diringankan kepada penjara seumur hidup. Mereka dikurniakan 3 orang anak, Ammar, Bilal dan Dhuha.

Dr Muhammad Badi’ mendapat ijazah Sarjana Muda (B. Sc.) Veterinary Science (Kedoktoran Haiwan) dari Universiti Kaherah pada tahun 1965, ijazah Sarjana Vet Sc tahun 1977 dari Universiti Az-Zaqaziq, Ph.D Vet. Sc tahun 1979 dari Universiti Az-Zaqaziq, Professor Madya Vet. Sc. Di Universiti Az-Zaqaziq tahun 1983, Professor Vet. Sc. Di Universiti Kaherah cawangan Bani Suef tahun 1987, ketua Jabatan Patologi, Fakulti Vet. Sc. Tahun 1990. Beliau telah menyelia 15 thesis Masters dan 12 thesis Ph.D dan berpuluh kertas penyelidikan dalam bidang Kedoktoran Haiwan (Vet. Sc.). Sekarang beliau bertugas sebagai Professor di Jabatan Patologi, Fakulti Sains Veterinar di Universiti Bani Suef, selatan Mesir.

Dalam arena Dakwah Ikhwan Muslimin, beliau menjadi anggota Maktab Idari di Mahalla Kubra tahun 1975, Masul Maktab Idari di Mahalla Kubra tahun 1977, Masul Tarbiyah di Ar-Rabitah, Yaman (1982 – 1986), anggota Maktab Idari di Bani Suef (1986), Masul Maktab Idari di Bani Suef (1990), Masul Tarbiyah Mesir (1994), anggota Maktab Irsyad (sejak 1996) dan anggota Maktab Irsyad Ikhwan Muslimin Antarabangsa (2007) dan Penyelia Biro Tarbiyah (2007).

Beliau bersama-sama sebahagian pimpinan Ikhwan Muslimin termasuk ahli tafsir Fi Zilal Al-Quran, Asy-Syahid Sayyid Qutb dihadap ke Mahkamah Tentera pada tahun 1965 dimana Sayyid Qutb dijatuhkan hukuman gantung sampai mati manakala beliau dipenjara 15 tahun. Selepas 9 tahun, beliau dibebaskan pada tahun 1974. Pada 1998, beliau dipenjara selama 75 hari atas isu “Persatuan Ad-Dakwah Al-Islamiah”. Pada tahun 1999, Mahkamah Tentera menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara. Pada tahun 2008, ketika musim Pilihanraya Dewan Undangan Negeri, beliau dipenjara selama sebulan.

Nama Dr Muhammad Badi’ tersiar dalam Ensaiklopedia Ilmiah Arab di kalangan 100 tokoh Arab yang diterbitkan oleh Badan Penerangan Mesir tahun 1999.

Semoga Allah swt mengurniakan beliau TaufiqNya dalam memimpin Jemaah Ikhwan Muslimin yang menjadi salah satu tempat harapan ummah Islamiyah dalam mengembalikan identity Islam ke dalam diri dan masyarakat Islam, berhadapan dengan penentangan dan projek gergasi Amerika, Yahudi dan barat untuk menguasai dunia dan menghancurkan Islam. “Wahai orang-orang beriman, jika kamu menolong Allah, Dia akan menolong kamu dan akan meneguhkan pendirian dan kedudukan kamu” (Al-Quran).

(dicopy drp. http://inijalanku.wordpress.com)

Lihatlah kamus-kamus di bawah..'Allah'..  

Posted by Tajul Arifin bin Che Zakaria

Di peringkat antarabangsa, penggunaan kalimah 'Allah' dari segi istilah adalah amat sinonim dengan agama dan umat Islam. Ia diiktiraf oleh kamus-kamus serta eksiklopedia terkemuka di dunia. Antaranya:

i- Kamus Oxford - Allah: Name of God among Muslim.
ii- Eksiklopedia Britannica - Allah: "God", the one and only God in the religion of Islam.
iii- Eksiklopedia katolik - Let it be noted that although Allah is an arabic term, it is used by all Moslems, whatever be their language, as the name of god.