Tuesday, October 23, 2012

Cantik video ni...mari lihat!!!

Rabbaniyah di 10 Hari Bulan Dzulhijjah


Tulisan: Fadhilatul Ustadz Muhammad Hamid Aliwah
Terjemahan: Ustaz Musyafa' Rahim




 ‫الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده؛ سيدنا محمد بن عبد الله،

 وعلى آله وصحبه ومن والاه، وبعد..


Hari-hari hilal bulan Dzulhijjah menemui kita. Hari-hari musim kebaikan
kembali menghampiri kita. Bulan penuh berkah dan limpahan kebaikan berisikan
keutamaaan kewajiban agama. Yaitu kewajiban berhaji dengan manasik,
perjalanan iman dan ibadah, makna pengorbanan, pengabdian, jihad dan mujahadah.

Sepanjang kehidupan seorang muslim penuh istimewa dengan berbagai amal
shalih, ibadah-ibadah yang dianjurkan, keta’atan sepanjang waktu, perjalanan
menuju Allah Azza wa Jalla, tanpa ada kemalasan, keberatan, futur dan
berhenti. Artinya bahwa kehidupan seorang muslim hendaknya semuanya berupa
ibadah, keta’atan, amal sholeh yang mengantarkan dekat dengan Allah Azza wa
Jalla.Inilah, jamuan Allah kami persembahkan di hari-hari istimewa, hari 10 Dzulhijjah. Dari Muhammad bin Masalah Al-Anshari ra. berkata, Rasulullah bersabda:

 ‫“إِنَّ لِرَبِّكُمْ فِي أَيَّامِ دَهْرِكُمْ نَفَحَاتٍ، فَتَعَرَّضُوا لَهُ،
 لَعَلَّهُ أَنْ يُصِيبَكُمْ نَفْحَةٌ مِنْهَا، فَلا تَشْقَوْنَ بَعْدَهَا
أَبَدًا” (رواه الطبراني في الكبير).

 “Sesungguhnya bagi Tuhan kalian di hari-hari sepanjang tahun kalian ada
nafahat –tiupan atau jamuan-, maka mendekatlah kepadanya, boleh jadi tiupan
 itu akan mengenaimu, sehingga kalian tidak akan pernah celaka selamanya.”
HR. At-Thabrani

 Mendekat pada tiupan kasih sayang Allah dengan memperbanyak doa dan meminta
 pada waktu-waktu utama tersebut, dikarenakan waktu-waktu tersebut waktu yang
 mustajab, sebagaimana waktu tersebut menjadi kesempatan untuk taqarrub
 kepada Allah Allah Azza wa Jalla dengan berbagai macam ibadah yang
 mengantarkan seorang hamba meraih pahala dan kemuliaan taqarrub kepada-Nya.

Fadhilah 10 Hari Dzulhijjah

Banyak hadits yang menjelaskan fadhilah sepuluh hari ini. Di antaranya
diriwayatkan dari imam Al-Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi dan lainnya dari Ibnu
Abbas ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda:


 ‫“مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ


 فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ”

 فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: “وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ
 ذَلِكَ بِشَيْءٍ”

 “Tidak ada amal sholih yang lebih dicintai Allah dibandingkan pada hari
 sepuluh ini. Para sahabat bertanya; “Termasuk jihad fi sabilillah? Rasul
 bersabda: “Termasuk jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar
 berperang dengan harta dan jiwanya dan tidak tersisa darinya sedikitpun
–meninggal-.”Dalam riwayat At-Thabrani:

 ‫“مَا مِنْ أَيَّامٍ يُتَقَرَّبُ إِلَى اللَّهِ فِيهَا بِعَمَلٍ أَفْضَلَ مِنْ
 هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ”،

“Tidak ada hari-hari yang lebih afdhal di mana taqarrub kepada Allah
dilaksanakan pada hari tersebut kecuali hari-hari yang sepuluh ini.”

 Menurut riwayat Ad-Darimi:

 ‫“مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلاَ أَعْظَمَ
 أَجْراً مِنْ خَيْرٍ تَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الأَضْحَى”.

“Tidak ada amal yang lebih baik di sisi Allah Azza wa Jalla dan tidak juga
 lebih besar pahalanya dibandingkan sepuluh hari idul Adha.”Persepsi para
 sahabat bahwa jihad merupakan puncak ajaran Islam dan amal yang paling
 utama, sehingga mereka bertanya kepada Nabi saw. tentang amal shalih di
 hari-hari ini yang melebihi pahala dan derajat kewajiban jihad yang agung
 ini. Maka Nabi saw. menjelaskan bahwa jihad tidak mengalahkan amal shalih di
 hari-hari ini kecuali hanya kondisi satu saja, yaitu seorang berjihad dengan
 harta dan jiwanya, ia memperoleh syahadah dan hartanya habis, tidak tersisa
sedikitpun darinya.

 Kebutuhan Kita terhadap Rabbaniyah

 Umat Islam sekarang ini melewati hari-hari baru, matahari izzah dan
 kemuliaan umat kembali bersinar. Itu semua mewajibkan kita untuk menguatkan
 Rabbaniyah dan hubungan yang intens dengan Allah Azza wa Jalla, sebagai
 upaya untuk meraih pertolongan dan dukungan dari Allah Azza wa Jalla secara
 berkelanjutan. Pada tahapan ini kita semua membutuhkan tambahan taqarrub
 pada Allah, meminta pertolongan kepada-Nya, merendah diri di hadapan-Nya
 karena Allah Dzat Pemberi pertolongan. Kita menghadap kepada-Nya dengan
 sepenuh hati dan anggota tubuh kita. Jika demikian, di atas jalan ibadah
 kita ini sejatinya kita telah memperkuat qiyadah atau kepemimpinan manusia
 menuju Allah Azza wa Jalla, dengan terus meminta kekuatan dari-Nya. Qiyadah
 Rabbaniyah yang kita berusaha mewujudkan dalam diri kita. Kita beribadah
 kepada Pencipta kita dengan Rabbaniyah. Allah berfirman dalam surat
 Al-Hajj:41.

 ‫الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا
 الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ
 عَاقِبَةُ الأمُورِ (٤١)

 “(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi
 niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat
 ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah
 kembali segala urusan.”

Amaliyah Dalam Rangka Menghidupkan Rabbaniyah Pada 10 Dzulhijjah

Atas pijakan tersebut, kami ketengahkan beberapa amal dan kegiatan yang
hendaknya dilaksanakan pada hari-hari penuh berkah ini, mengajak orang lain
melaksanakannya, sehingga cakupan keta’atan meluas dan manusia menghadap
kepada Allah pada hari-hari penuh berkah ini. Dengan demikian, rahmat Allah
akan turun kepada kami, kepada negeri dan rakyat kami:

Pertama, mempersiapkan diri untuk menjemputnya. Menghadirkan niat baik untuk
bersungguh-sungguh melaksanakan keta’atan pada waktu tersebut. Sebelum itu,
hendaknya kembali mendekat kepada Allah dengan taubatan nashuha dan
mensucikan hati.

Kedua, berusaha untuk shalat berjama’ah tepat waktu di masjid pada hari-hari
ini. Berusaha dengan semangat menemui takbiratul ihram Imam artinya tidak terlambat takbiratul ihram imam, kemudian menjaga shalat sunnah qabliyah dan
bakdiyah 12 rakaat.

 ‫عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: “مَا
 تَوَطَّنَ رَجُلٌ مُسْلِمٌ الْمَسَاجِدَ لِلصَّلاَةِ وَالذِّكْرِ إِلاَّ
 تَبَشْبَشَ اللَّهُ لَهُ كَمَا يَتَبَشْبَشُ أَهْلُ الْغَائِبِ بِغَائِبِهِمْ
 إِذَا قَدِمَ عَلَيْهِمْ” رواه ابن ماجه.

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw.:

 “Tidaklah seorang muslim berangkat ke masjid untuk shalat dan dzikir,
 kecuali Allah akan merindukannya sebagaimana kerinduan orang yang lama tidak
 berjumpa kemudian ia kembali menemuinya.”  HR. Ibnu Majah

Ketiga, menjaga shalat nawafil harian, terutama shalat Dhuha, Witir dan
Qiyamullail. Dalam hadits Qudsi Allah berfirman:

 ‫
“مَن عادى لي وليًّا فقد آذنتُه بالحرب، وما تَقَرَّبَ إليَّ عبدي بشيء أَحبَّ
 إليَّ مما افترضتُهُ عليه، وما يزال عبدي يَتَقَرَّبُ إليَّ بالنوافل حتى
أُحِبَّه؛ فإذا أحببتُه كنتُ سَمْعَه الذي يَسمعُ به، وبَصَرَهُ الذي يُبصِرُ
 به، ويَدَهُ التي يَبطِشُ بها، ورِجْلَه التي يَمشِي بها، وإنْ سألني
 لأُعطِيَنَّه، ولئن استعاذ بي لأُعيذنَّه…“

 “Siapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Dan
 tiada mendekat kepada-Ku seorang hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Ku sukai
 daripada menjalankan kewajibannya, dan hamba-Ku senantiasa mendekat
 kepada-Ku dengan melakukan sunnat-sunnat, sehingga Ku sukai. Maka apabila
 Aku telah kasih padanya, Akulah yang menjadi pendengarannya dan
 penglihatannya, dan sebagai tangan yang digunakannya dan kaki yang
dijalankannya, dan apabila ia memohon kepada-Ku pasti Ku-kabulkan, dan jika
berlindung kepada-Ku pasti kulindungi.” HR Bukhari

Keempat, khotmul Qur’an dengan membacanya minimal satu kali pada 10 hari
Dzulhijjah, artinya satu hari tiga juz

Kelima, shuam pada hari-hari tersebut sesuai kemampuan kita, minimal hari
Senin, Kamis dan hari Arafah. Siapa yang dikehendaki Allah shaum semuanya dengan sungguh-sungguh, maka pahalanya menjadi kewajiban bagi Allah atasnya,
dan itu merupakan keutamaan dari Allah yang diberikan kepadanya.

Keenam, berupaya untuk senantiasa berdzikir dan berdoa pada hari-hari ini,
terutama dzikir pagi dan petang, berusaha dzikir kondisi tertentu, do’a
khutmul Qur’an, dzikir mutlak (minimal 1000 perhari) seperti istighfar,
 tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan memperbanyak shalawat atas nabi saw.

Ketujuh, hendaknya setiap muslim dan muslimah yang tidak berhaji
menghadirkan kewajiban haji di hatinya, merasakan manasik haji dan
syi’ar-syi’ar lainnya seakan-akan ia bersama mereka. Merasakan makna
pengorbanan,  pengabdian dan keta’atan.

Kedelapan, semangat dalam berdo’a pada hari-hari ini, dengan memperhatikan waktu-waktu mustajab setelah shalat, ketika sujud, ketika ifthor, sahur.
Jangan lupakan do’a untuk kemenangan dan kemajuan umat Islam keseluruhan,
terutama saudara-saudara kita di Suriah, Palestina, Burma dan negara-negara
minoritas Muslim agar kezhaliman diangkat dari mereka dan dijauhkan dari
bencana.

Kesembilan, infaq fi sabilillah, terutama sadaqah rahasia, karenanya
bisa memadamkan kemarahan Tuhan. Hendaknya setiap kita menyiapkan dana untuk
dikeluarkan dalam rangka kebaikan.

Kesepuluh, berusaha untuk ibadah di Masjid, yaitu berdiam diri antara waktu fajar sampai matahari terbit, minimal dua kali pada hari-hari ini. Rasul bersabda:

 ‫“من صلى الغداة في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كانت
 له كأجر حجة وعمرة تامة تامة تامة” (رواه الترمذي وصححه الألباني).

“Siapa yang shalat shubuh berjamaah kemudian duduk mengingat Allah hingga
 matahari terbit kemudian shalat sebanyak dua rakaat, maka untuknya pahala
 sebagaimana pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna dan sempurna” HR.
Tirmidzi

Kesebelas, menghidupkan sunnah berkorban, berazam untuk melaksanakannya
dikarenakan fadhilah dan pahala yang besar. Rasulullah saw. bersabda:‫

 “ما عمل ابن آدم يوم النحر أحب إلى الله من إهراق الدم، وإنه ليؤتى يوم القيامة
 بقرونها وأشعارها وأظلافها، وإن الدم ليقع من الله بمكان قبل أن يقع بالأرض،
 فطيبوا بها نفسًا” رواه الترمذي وابن ماجه وصححه الألباني.

“Tidak ada amal yang dilakukan oleh anak Adam lebih disukai oleh Allah di
 hari korban selain dari mengalirkan darah (menyembelih qurban). Sesungguhnya
 korbannya itu di hari kiamat akan datang menyertai bani Adam dengan
tanduk-tanduknya, bulunya dan kuku-kukunya. Dan darah qurban tersebut akan
 menetes di suatu tempat (yang diridlai) Allah sebelum menetes ke bumi, maka
 relakanlah korban itu.” HR.Tirmidzi

Keduabelas, hendaknya seorang muslim menganjurkan keluarganya; istri dan anak-anaknya untuk menyambut jamuan Allah swt ini, membantu mereka untuk melaksanakan kebaikan dan keta’atan pada hari-hari ini, sehingga Rabbaniyah hidup di rumah kita. Dan hendaknya setiap muslim berusaha melaksanakan taujihat dan pesan-pesan ini di lingkungannya bersama teman-temannya, dengan tetangganya dan menganjurkan mereka melaksanakannya, karena: “Siapa yang menunjukan kebaikan baginya pahala persis seperti orang yang melakukannya” sehingga manfaatnya meluas dan suasana keta’atan melingkupi semua umat Islam. Dengan demikian kita telah menghidupkan Makna Rabbaniyah pada diri kita, keluarga kita, masyarakat kita dan umat Islam.“Ya Allah, karuniakan kepada kami keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan, saat sendiri atau
dalam keramaian. Karuniakan kepada kami perkataan baik dan benar saat ridha atau ketika marah. Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang menikmati jamuan-Mu di hari-hari yang baik ini. Dan do’a akhir kami bahwa segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” [io]




Wednesday, October 17, 2012

Kelebihan 10 Zulhijjah - perkongsian ilmu pagi ini


Penulis: Ustaz Tajul Arifin bin Che Zakaria (UsTACZ)
Pengerusi JK Tarbiah 
Pertubuhan Ikram Malaysia

Di antara rahmat dan kurniaan Allah kepada umat Muhammad s.a.w.  ialah Dia telah menjadikan  khusus untuk umat ini hari-hari dan musim-musim untuk menambah kebaikan dan ganjaran yang berganda. Allah s.w.t.  membuka pintu-pintu  dan memberi peluang bagi hamba-hambaNya mendapat keberkatan dan rahmat.
 

Di antara hari-hari tersebut ialah hari-hari sepuluh pertama dari bulan Zulhijjah sebagaimana yang telah dinyatakan Allah dalam Surah Al-Fajr ayat 1 dan 2:

والفجر وليال عشر

"Dan demi waktu fajar dan malam-malam yang sepuluh".

Berkata Ibnu Kathir: "10 Malam yang dimaksudkan di dalam ayat tersebut ialah malam-malam bulan Zulhijjah".  

Ini jugalah yang disepakati oleh  Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid dan ramai dari kalangan ulama' salaf dan khalaf. Pendapat ini telah ditarjihkan oleh majoriti ulama' terutamanya bilamana malam-malam 10 tersebut digandingkan bersama waktu fajar kerana kebanyakan mufassirun (ahli tafsir)  mengatakan ia adalah  fajar hari Nahr (Hari Raya Qurban dan hari ke 11, 12 dan 13).

Telah thabit di dalam Sahih Bukhari daripada Ibnu Abbas (hadis marfu'): "Tiada dari hari-hari untuk beramal soleh padanya terlebih dikasihi kepada Allah selain hari-hari 10 Zulhijjah ini".   Para sahabat bertanya: "Tidak juga berjihad di jalan Allah? Nabi s.a.w. bersabda: "Tidak juga berjihad di jalan Allah melainkan seorang lelaki yang keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian dia tidak lagi membawa pulang apa-apa".

Hari-hari sepuluh ini termasuk Hari Arafah yang telah thabit di dalam Sahih Muslim darada Abu Qatadah katanya: Rasulullah s.a.w. berkenaan puasa Hari Arafah. Sabdanya: "Aku mengharap Allah s.w.t. akan menghapuskan dosa setahun yang lepas dan akan datang ". Ini pendapat yang paling kuat dalam bab fadhilat Hari-hari 10 Zulhijjah.

Sesetengah ulama' menafsirkan rahsia di sebalik kelebihan yang besar ini. 

Mereka mengatakan ia berkaitan dengan Ibadat Haji dan diakhiri dengan Hari Arafah. Kelebihan hari ini amat besar, demikian juga kelebihan Hari Raya; ia adalah sebesar-besar kemuliaan di sisi Allah Ta'ala kerana padanya terdapat Haji Akbar. Demikian juga faktor-faktor yang membawa kepada kelebihan beramal padanya berkait dengan  suasana keamanan di Mekah itu sebagai persediaan menyambut kedatangan bakal-bakal haji, termasuk juga mereka yang ditinggalkan oleh para hujjaj demi menyahut seruan Allah s.w.t.  Semua itu demi satu tujuan iaitulah untuk menumpukan perhatian hanya kepada amal ibadat dan zikir dan ia juga peluang untuk menyibukkan diri masing-masing dengan segala jenis amal ibadat  solat, puasa, sedekah dan haji.

Berkata Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam kitab Fathul Bari Jilid ke 2 pada muka surat 234: 

"Dan yang jelas di sini bahawa sebab mengapa istimewanya 10 Hari dari bulan Zulhijjah kerana ia menjadi tempat terhimpunnya  Ummahatul Ibadah padanya(أمهات العبادة), iaitu solat, puasa, sedekah dan haji. Semua ibadat itu tidak terhimpun  pada selain bulan Zulhijjah".

Betapa besarnya kelebihan hari-hari ini, Allah s.w.t. menjadikannya kembar kepada 10 hari-hari terakhir dari bulan Ramadhan. 

Ibnu Qayyim mengambil jalan pertengahan dalam hal ini. 

Di dalam kitab Zadul Ma'ad katanya: 

"Maka yang benar pada masalah ini ialah: 10 malam akhir daripada Ramadhan lebih afdhal dari 10 malam akhir dari bulan Zulhijjah dan sebaliknya 10 hari dalam bulan Zulhijjah terlebih afdhal dari 10 hari terakhir dalam bulan Ramadhan. Dengan huraian ini, maka hilanglah kekeliruan. Ini menunjukkan bahawa 10 malam dari bulan Ramadhan diberi kelebihan dengan sebab adanya Lailatul Qadar -ia berlaku di waktu malam- dan 10  hari dari bulan Zulhijjah  lebih afdhal  disebabkan hari-harinya itu iaitu padanya terdapat Hari Nahr (Hari 10,11,12 dan 13), Hari Arafah dan Hari Tarwiyah".

Persoalannya apakah 'amal soleh' yang dimaksudkan di dalam hadis riwayat Bukhari di atas? Adakah ia jenis tertentu dari amal ibadat ataupun semua jenis amal ibadat yang boleh mendekatkan diri kepada Allah Azzawajalla?

Terdapat beberapa hadis yang menjelaskan persoalan di atas. 

Di antaranya hadis yang telah diriwayatkan oleh At-Tobarani dengan sanad jayyid: 

"Tiada hari-hari di sisi Allah dan tiada hari-hari yang paling aku sukai untuk  beramal padanya selain Hari-hari 10, maka perbanyakkanlah padanya tasbih, tahmid, tahlil dan takbir".

Di dalam Sunan Abu Daud menyatakan bahawa adalah Rasulullah s.a.w. berpuasa pada hari-hari 10 ini, iaitu selain Hari Raya.

Kesimpulannya:

Allah s.w.t. telah memuliakan kita semua dengan kedatangan bulan yang mulia ini, maka marilah sama-sama kita mengambil peluang keemasan ini untuk mendekatkan diri kepada Allah Azzawajallla. Semoga segala amalan kita diterima dan kita menjadi hamba-hamba Allah yang bijaksana dalam usaha meraih redhoNya.

Wallahu A'lam

Sunday, October 14, 2012

Merenung ke Dalam Diri di Sepanjang Jalan Dakwah



Tulisan: Sheikh Mohamed Hamed Eliwa
Terjemahan: UsTACZ

Menjadi kewajipan para duah (pendakwah) untuk merenung jauh ke dalam diri mereka sendiri dan bermujahadah dengan bersungguh-sungguh melawan kehendaknya. Mereka hendaklah sentiasa tegas dalam bermuhasabah dan jangan sekali-kali meremehkan usaha ini dalam apa keadaan sekalipun. Mereka hendaklah setiasa mengambil ‘azimah’ dalam bermuhasabah sehinggalah Allah s.w.t. meluruskan urusanNya. Ini disebabkan jalan dakwah yang sedang dilaluinya ini penuh dengan fitnah (tribulasi) dan persimpangannya terlalu sukar untuk ditempuhi. Justeru Imam Syahid Hasan Al-Banna sering mengingatkan para ikhwannya kepada suatu yang menjadi kewajipan ke atas seseorang al-akh itu bertajuk: (Menghalang berlakunya mudhorat daripada jiwa dan kewajipan menjaganya).. di dalam pesanannya bagi anggota Ikhwan Muslimin (IM) pada tahun 1939 setelah selesai berlangsungnya Muktamar Kelima beliau berkata: “Wahai Ikhwan sekalian, beramal untuk memelihara jiwa kita sendiri itu adalah kewajipan pertama dalam susunan keutamaan wajibat kita. Maka hendaklah  kamu bersungguh-sungguh bermujahadah dengan diri kamu. Pastikan diri kamu berada di atas ta’alim Islam dan hukum-hukumnya. Jangan kamu meremehkan (meringan-ringankan) ta’alim Islam dan hukum-hukumnya itu dalam apa keadaan sekalipun. Hendaklah kamu sentiasa berada dalam ketaatan dan larilah kamu dari dosa serta bersihkan diri kamu dari perkara-perkara maksiat. Hubungkanlah hati-hati dan perasaan kamu sentiasa dengan Allah yang merupakan pemilik langit dan bumi. Lawanlah kemalasan dan singkirkan perasaan lemah. Pastikan perasaan dan semangat syabab (pemuda)kamu terarah kepada kebaikan dan kesucian. Hisablah diri-diri kamu dalam hal ini dengan penghisaban yang sukar. Berhati-hatilah kamu agar jangan sampai berlalu kepada kamu satu detik tanpa amal yang baik dan tanpa usaha yang murni bagi kemaslahatan dakwah ini”.

Di antara perkara yang perlu diambil berat oleh para duah ialah senantiasa menilik hati dan jiwanya supaya selari antara kata-kata dan amalannya. Kerana mengajak (berdakwah) manusia kepada kebaikan dalam keadaan berlakunya percanggahan dengan apa yang kita serukan adalah suatu musibah besar dan ia adalah satu penyakit yang amat berbahaya. Allah Ta’ala berfirman:

(أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب أفلا تعقلون)

“Apakah kamu menyuruh manusia dengan kebaikan dan kamu lupa terhadap diri kamu sendiri, sedangkan kamu membaca Kitab. Apakah kamu tidak berakal?”.

FirmanNya lagi:

( يا أيها الذين آمنوا لم تقولون مالاتفعلون ، كبر مقتا عند الله أن تقولوا مالاتفعلون )

“Wahai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan suatu yang kamu tidak kerjakan. Amat besarlah kebencian di sisi Allah s.w.t. bahawa kamu mengatakan suatu yang kamu tidak kerjakan”.
Telah diriwayatkan bahawa Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi Isa a.s.:

(يا بن مريم : عظ نفسك فإن اتعظت فعظ الناس وإلا فاستحى منى) 

Maksudnya: “Wahai Ibnu Maryam, nasihatilah akan dirimu terlebih dahulu. Bila kamu telah nasihatkan dirimu, maka nasihatkanlah manusia lain. Jika tidak demikian, maka malulah kamu kepadaKu”.
Di antara akibat buruk mereka itu pada hari qiamat ialah penghuni syurga melihat mereka diazab di dalam neraka, lalu mereka (penghuni syurga) bertanya mereka (dalam neraka): “Apa yang menyebabkan kamu dihumbankan ke neraka?” Sesungguhnya kami dapat masuk syurga dengan sebab ajaran dan tunjuk ajar kamu kepada kami ! Lalu mereka menjawab: “Sesungguhnya kami dulu (di dunia) menyuruh kamu berbuat baik, tetapi kami tidak beramal dengan kebaikan itu, kami dulu (di dunia) melarang kamu dari kemungkaran, tetapi kami telah melakukan kemungkaran tersebut. Sesungguhnya ia adalah suatu yang amat malang bagi kami, kami menyesal sesesal-sesalnya (berlakunya itu di hadapan khalayak ramai pada hari Qiamat).

Kepatuhan antara kata-kata dan amalan bukan suatu yang senang atas jiwa. Kerana jiwa manusia dikelilingi nafsu syahwat dan kebiasaan (tabiat). Justeru wajiblah para duah melakukan riadhah jiwa; bermujahadah dan meniliknya. Antara faktor yang boleh membantu ke arah itu ialah hubungan dengan Allah s.w.t. dan sentiasa meminta pertolongan daripadaNya dan kedekatan jiwa di hadapanNya. Oleh itu, tidak mungkin seorang duah itu mampu menjadi qudwah terhadap apa yang diucapkannya melainkan apabila dia berjaya memperkukuhkan  hubungannya dengan Allah dan  mendapatkan pertolongan daripadaNya. Maka jadilah:

(إياك نعبد وإياك نستعين)

“Hanya kepada Engkau sahaja kami sembah dan hanya kepada Engkau  sahaja kami meminta pertolongan”… sebagai manhaj dan jalannya. Pada ketika itu sahaja Allah s.w.t. pastinya akan menganugerahkan petunjukNya ke jalan yang lurus, iaitu jalan mereka yang telah diberi nikmat ke atas mereka itu. Ia akan menolongnya menghadapi fitnah-fitnah dan simpangsiur di sepanjang jalan dakwah ini. Manusia akan melihat sifat benarnya, lalu dengan itu Allah Ta’ala akan membuka hati-hati manusia dengan sifat benar tersebut.

يقول صاحب الظلال (الشهيد سيد قطب) : (إن الكلمة لتنبعث ميته ، وتصل هامدة مهما تكن طنانة رنانة متحمسة إذا هي لم تنبعث من قلب يؤمن بها ، ولن يؤمن إنسان بما يقول حقا إلا أن يصبح هو ترجمة حية لما يقول ، وتجسيما واقعيا لما ينطق ، عندئذ يؤمن الناس ، ويثق الناس ، ولو لم يكن فى تلك الكلمة طنين ولا بريق ، إنها حينئذ تستمد قوتها من واقعها لامن زينتها ، وتستمد جمالها من صدقها لا من بريقها ، إنها يومئذ دفعة حياة لأنها منبثقة من حياة) . فى ظلال القرآن ج1 ص 68 .

Telah berkata pengarang tafsir Fi Zilal Al-Quran (Syahid Syed Qutb): “Sesungguhnya sesuatu kalimah itu bila keluar dalam keadaan ‘mati’, ia tetap longlai sekalipun bermotivasi dan kuat bunyinya bilamana ia tidak keluar dari hati orang yang beriman dengannya. Seseorang insan itu tidak akan dikira beriman dengan sebenar-benarnya melainkan ia menjadi terjemahan yang hidup pada apa yang diperkatakan, berjisim dan tampak hidup pada apa yang diucapkan. Ketika itu insan akan beriman dan akan percaya sekalipun pada kalimah itu tidak dihiasi dengan keindahan dan kecantikan. Sesungguhnya pada ketika itu kata-kata itu mendapat kekuatannya dari realitinya, bukan dari perhiasannya. Kecantikan itu datang dari sifat benarnya. Ia lantas menjadi kuasa/tenaga yang menolak kehidupan kerana ia terjelma keluar dari kehidupan sebenar”. (Fi Zilal jld 1, m/s 68)

Kesimpulannya ada dua:

Pertama: Orang yang mengajak orang lain kepada petunjuk sedangkan dia tidak beramal dengannya samalah seperti lampu yang memberi cahaya kepada manusia tetapi ia membakar dirinya sendiri. Semoga Allah menyelamatkan kita semua.

Kedua: Bahawa tanggungjawab duah terhadap orang lain tidak harus memalingkan mereka dari tanggungjawab terhadap diri mereka sendiri. Dan bahawa kesibukan mereka berusaha memperbaiki manusia seharusnya tidak memalingkan mereka daripada mengislahkan hal keadaan mereka. Maka dengan demikian mereka telah memberi hak kepada yang berhak.

Kita bermohon agar Allah s.w.t. menjadikan batin kita semua lebih baik dari zahir (lahiriah) kita, yang tersembunyi pada kita lebih baik dari yang terserlah, dan semoga Allah s.w.t. mengurniakan kita benar dalam ucapan dan amalan serta ikhlas dalam sunyi dan terbuka.
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Monday, October 8, 2012

Usrah Adalah Qaedah Asas dalam Struktur Dakwah Kita


Tulisan: Sheikh Mohamed Hamed Eliwa
Terjemahan: Ustaz Tajul Arifin Che Zakaria (TACZ)

Sesungguhnya Imam Al-Banna telah menegaskan makna ini ketika bercakap di hadapan Ikhwan pada suatu hari: “Usrah merupakan Qaedah Asas dalam binaan dakwah kita. Naqib usrah pula adalah batu penjuru dalam binaan ini”. Ia merupakan kalam pengasas Ikhwan Muslimin (IM) bagi menunjukkan betapa mustahak dan betapa kesatuan dakwah ini terbina di atas sistem ini. Justeru Imam Al-Banna telah meletakkan Peraturan Khusus (Laihah Khas) bagi menjamin kelangsungannya berdasarkan disiplin yang telah ditetapkan dan efektif agar pentarbiyahan individu terlaksana. Itulah matlamat daripada dakwah ini. Peraturan ini telah ditetapkan pada bulan Rabi’ul Awal 1362H bersamaan bulan Mac 1943.

Berkenaan Sistem Usrah ini, Imam Al-Banna berkata: “Wahai Ikhwan sekalian, sistem ini amat berguna untuk kita dan dakwah ini dengan izin Allah SWT. Ia berfungsi untuk mengontrol (mengawal) ikhwan yang ikhlas dan menjadikan mereka berada dalam suasana mudah dihubungi dan menerima arahan dari masa ke semasa untuk kepentingan dakwah yang mulia ini. Ia akan menguatkan ikatan dan meningkatkan ukhuwah satu sama lain dari tahap kata-kata (teori) ke tahap perbuatan dan praktikal (pelaksanaan)”.

Usrah adalah Wadah Utama Tarbiyah kerana tarbiyah berdasarkan Sistem Usrah adalah merupakan tarbiyah sebenar (hakiki) disebabkan beberapa faktor:

(1) Di dalam usrah kehalusan dan kedalaman tarbiyahnya wujud (kerana bilangan sedikit dan mudah dimutaba’ah dan berlakunya muayasyah).

(2) Di dalam usrah adanya hikmah dan berlakunya proses pemindahan pengalaman (di bawah seliaan seorang mu’allim dan murabbi iaitu naqib) berpandukan Manhaj Tarbiyah bersumberkan Al-Quran, As- Sunnah dan terikat dengan jadual masa secara bertahap dan terarah.

Tatkalamana tarbiyah melalui jalan usrah memungkinkan tersedianya atau terbinanya individu secara Islami dan sempurna, maka ianya (Sistem Usrah) akan berterusan sekalipun setelah tertegaknya Kerajaan Islam. Kerana tarbiyah melalui jalan usrah akan berfungsi sebagai pembekal untuk kerajaan memenuhi keperluan sumber manusia berkualiti. Ciri-ciri insan soleh seumpama itu memang diperlukan oleh mana-mana kerajaan secara berterusan. Ini bermakna bahawa Sistem Tarbiyah melalui Usrah adalah Unsur Tetap (thawabit) dakwah IM.

Sebagaimana Usrah merupakan wadah utama tarbiyah, Usrah juga merupakan Unit bagi mengawal keanggotaan dan tanzim dalam Struktur Jemaah. Bagaimana mungkin unit keanggotaan (sepenting ini) boleh berubah mengikut situasi dan keadaan?!!

Ingatlah bahawa Unit Keanggotaan adalah sebahagian dari sistem itu. Ia adalah batu bata dalam struktur binaannya dan tidak mungkin mana-mana binaan akan kekal bilamana batu bata- batu batanya terpisah (terkeluar) dari struktur asalnya.

Usrah merupakan keluarga setiap al-akh dan ia adalah kaum kerabat terdekatnya. Ia merupakan ikatan sebenar dan amat diperlukan bagi menghubungkan antara individu dan Jemaah. Ia merupakan satu-satunya wasilah yang akan membantu Jemaah memutaba’ah anggotanya dari pelbagai sudut. Semua kepentingan tersebut menjadi ciri-ciri khusus bagi usrah.

Tidak ada seorang pun boleh mengatakan bahawa Sistem Usrah merupakan Unsur Thawabit dalam Islam, tetapi sebagai anggota IM, kita semua telah bersetuju untuk menjadikannya sebagai salah satu Unsur Thawabit dalam dakwah kita.

Penentuan tersebut sebagai mencontohi tarbiyah yang dilaksanakan oleh Rasulullah S.A.W. kepada para sahabatnya di Darul Arqam ibn Abi Al-Arqam. Penentuan tersebut juga berdasarkan pendirian yang diambil oleh Nabi S.A.W. bersama kaum Ansar yang berbai’ah dengan baginda pada Bai’at Aqabah Kedua.

Justeru itu tidak harus ada seorang pun daripada kalangan kita yang  boleh mengeluarkan kenyataan bahawa Usrah bukan dari Thawabit Ikhwan Muslimin. 

Kita tegaskan kepadanya …”tidak sekali-kali tidak”.
Dalam IM, Usrah merupakan Unsur Tetap (tidak berubah) daripada Thawabit Sistem Tarbiyah dan keanggotaan kerana ia adalah wadah tarbiyah utama dan unit keanggotaan dalam struktur tanzim Jemaah. Lebih-lebih lagi ia juga merupakan unit terpenting untuk kelangsungan individu dan jemaahnya.... 

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين




Saturday, September 29, 2012

PANDUAN NABI S.A.W. UNTUK MENJADI USAHAWAN BERJAYA

Diambil dari:
http://blogahmadtarmizi-miji.blogspot.com/2009/02/panduan-perniagaan-oleh-nabi-muhammad.html

Sebenarnya Nabi Muhammad SAW ada memberi panduan dalam mencari nafkah atau menjadi usahawan. Sila lihat hadith yang dikutip oleh Sayid Sabiq dalam kitabnya ‘Anasirul Quwati fil Islam’, berkata Anas RA lebih kurang begini...

Seorang pemuda dari kalangan sahabat Ansar datang kepada beliau meminta-minta. Kata beliau, “Engkau.. takde apa-apakah di rumah?”

“Ada!” Jawab pemuda Ansar itu. “Hanya sehelai tikar dan sebuah takar (tempat air minum) sahaja..”

“Bawa kedua-dua barangan itu ke mari!!” Arah Nabi.

Pemuda itu pun pergi mengambilnya dan membawa kepada Nabi. Nabi terus membuat tawaran, menjual secara lelong barangan tersebut kepada kawan-kawan di situ. Dijual dengan harga paling tinggi, iaitu 2 dirham.

“Nah! Satu dirham engkau beli makanan untuk keluraga engkau, dan bakinya engkau beli sebuah kapak!” Saran Nabi. “.. bawa kapak itu kemari!!”

Pemuda itu terus mempraktikkan idea tersebut, ia kembali dengan sebuah kapak yang baru dibeli. Nabi mengambilnya dan mengikat pada sebatang tongkat (yakni siapkan hulu hingga boleh terus guna), dan menyerah balik. Katanya, “Pergilah cari kayu api dengan kapak ini, dan juallah hasilnya! Jangan sampai aku nampak kamu lagi selama 15 hari (dari sekarang)!!”

Selepas 15 hari berlalu, kembalilah kawan itu, dia berjaya mengumpulkan wang sebanyak 10 dirham. Sebahagian dibeli makanan dan sebahagian lagi pakaian.

“Hal ini adalah lebih baik dari engkau datang di Hari Kiamat dengan wajahmu bernoda, tanda meminta-minta.” Jelas Nabi lagi. (Hadith dirawikan oleh Abu Daud).

Hadith ini menggambarkan pengangguran, kemiskinan dan meminta-minta memang ada, walaupun perlu dihapuskan. Nabi mencetuskan idea kreatif, bagaimana menjadi usahawan, dapatkan modal, memotivasi (contohnya tempoh 15 hari sasaran masa ditetapkan), kecekapan melihat pasaran (waktu itu jual bahan bakar atau kayu api) dan sebagainya. Memang hebat Nabi Muhammad SAW.

Pengalaman masa mudanya pernah jadi usahawan. Pernah jadi gembala kambing sebagai tarbiah kepimpinan (Ingat hadith Nabi, setiap kamu adalah pengembala...). Pernah berkongsi atau usahasama niaga dengan ahli bisnes kecil As-Saa’ib bin Abis Saa’ib. Pernah berniaga import-eksport Mekah-Syam, di mana sumber ‘finance’nya ialah Khadijah sendiri walaupun waktu itu masih belum jadi isterinya (akhirnya taukeh finance itu jadi isteri atau miliknya).

Dikatakan beliaulah pencetus idea-niaga ‘surung makan, tarik pun makan’, pergi ke Syam membawa dagangan dari Mekah, pulang membawa dagangan dari Syam. Di mana amalan sebelum itu cuma pergi membeli dagangan untuk penduduk Mekah dari Syam sahaja. Dengan itu penduduk Mekah dapat menikmati barang keperluan dengan harga yang lebih rendah.

Begitu juga ramai tokoh-tokoh usahawan yang berjaya, adalah anakdidik beliau, seperti Abdul Rahman bin Auf, Usman bin Affan dan sebagainya yang dijamin syurga. Mereka bukan sahaja berjaya dari sudut usahawan semata-mata, bahkan menjadi tokoh-tokoh politik dan pemimpin perjuangan Islam.

Bahan berkaitan:
http://www.motivasisantai.com/motivasi-bisnes/2012/06/05/berniaga-cara-nabi-muhammad-saw/