Tuesday, October 23, 2012
Rabbaniyah di 10 Hari Bulan Dzulhijjah
Tulisan: Fadhilatul Ustadz Muhammad Hamid Aliwah
Terjemahan: Ustaz Musyafa' Rahim
الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده؛ سيدنا محمد بن عبد الله،
وعلى آله وصحبه ومن والاه، وبعد..
Hari-hari hilal bulan Dzulhijjah menemui kita. Hari-hari musim kebaikan
kembali menghampiri kita. Bulan penuh berkah dan limpahan kebaikan berisikan
keutamaaan kewajiban agama. Yaitu kewajiban berhaji dengan manasik,
perjalanan iman dan ibadah, makna pengorbanan, pengabdian, jihad dan mujahadah.
Sepanjang kehidupan seorang muslim penuh istimewa dengan berbagai amal
shalih, ibadah-ibadah yang dianjurkan, keta’atan sepanjang waktu, perjalanan
menuju Allah Azza wa Jalla, tanpa ada kemalasan, keberatan, futur dan
berhenti. Artinya bahwa kehidupan seorang muslim hendaknya semuanya berupa
ibadah, keta’atan, amal sholeh yang mengantarkan dekat dengan Allah Azza wa
Jalla.Inilah, jamuan Allah kami persembahkan di hari-hari istimewa, hari 10 Dzulhijjah. Dari Muhammad bin Masalah Al-Anshari ra. berkata, Rasulullah bersabda:
“إِنَّ لِرَبِّكُمْ فِي أَيَّامِ دَهْرِكُمْ نَفَحَاتٍ، فَتَعَرَّضُوا لَهُ،
لَعَلَّهُ أَنْ يُصِيبَكُمْ نَفْحَةٌ مِنْهَا، فَلا تَشْقَوْنَ بَعْدَهَا
أَبَدًا” (رواه الطبراني في الكبير).
“Sesungguhnya bagi Tuhan kalian di hari-hari sepanjang tahun kalian ada
nafahat –tiupan atau jamuan-, maka mendekatlah kepadanya, boleh jadi tiupan
itu akan mengenaimu, sehingga kalian tidak akan pernah celaka selamanya.”
HR. At-Thabrani
Mendekat pada tiupan kasih sayang Allah dengan memperbanyak doa dan meminta
pada waktu-waktu utama tersebut, dikarenakan waktu-waktu tersebut waktu yang
mustajab, sebagaimana waktu tersebut menjadi kesempatan untuk taqarrub
kepada Allah Allah Azza wa Jalla dengan berbagai macam ibadah yang
mengantarkan seorang hamba meraih pahala dan kemuliaan taqarrub kepada-Nya.
Fadhilah 10 Hari Dzulhijjah
Banyak hadits yang menjelaskan fadhilah sepuluh hari ini. Di antaranya
diriwayatkan dari imam Al-Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi dan lainnya dari Ibnu
Abbas ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda:
“مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ
فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ”
فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: “وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ
ذَلِكَ بِشَيْءٍ”
“Tidak ada amal sholih yang lebih dicintai Allah dibandingkan pada hari
sepuluh ini. Para sahabat bertanya; “Termasuk jihad fi sabilillah? Rasul
bersabda: “Termasuk jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar
berperang dengan harta dan jiwanya dan tidak tersisa darinya sedikitpun
–meninggal-.”Dalam riwayat At-Thabrani:
“مَا مِنْ أَيَّامٍ يُتَقَرَّبُ إِلَى اللَّهِ فِيهَا بِعَمَلٍ أَفْضَلَ مِنْ
هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ”،
“Tidak ada hari-hari yang lebih afdhal di mana taqarrub kepada Allah
dilaksanakan pada hari tersebut kecuali hari-hari yang sepuluh ini.”
Menurut riwayat Ad-Darimi:
“مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلاَ أَعْظَمَ
أَجْراً مِنْ خَيْرٍ تَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الأَضْحَى”.
“Tidak ada amal yang lebih baik di sisi Allah Azza wa Jalla dan tidak juga
lebih besar pahalanya dibandingkan sepuluh hari idul Adha.”Persepsi para
sahabat bahwa jihad merupakan puncak ajaran Islam dan amal yang paling
utama, sehingga mereka bertanya kepada Nabi saw. tentang amal shalih di
hari-hari ini yang melebihi pahala dan derajat kewajiban jihad yang agung
ini. Maka Nabi saw. menjelaskan bahwa jihad tidak mengalahkan amal shalih di
hari-hari ini kecuali hanya kondisi satu saja, yaitu seorang berjihad dengan
harta dan jiwanya, ia memperoleh syahadah dan hartanya habis, tidak tersisa
sedikitpun darinya.
Kebutuhan Kita terhadap Rabbaniyah
Umat Islam sekarang ini melewati hari-hari baru, matahari izzah dan
kemuliaan umat kembali bersinar. Itu semua mewajibkan kita untuk menguatkan
Rabbaniyah dan hubungan yang intens dengan Allah Azza wa Jalla, sebagai
upaya untuk meraih pertolongan dan dukungan dari Allah Azza wa Jalla secara
berkelanjutan. Pada tahapan ini kita semua membutuhkan tambahan taqarrub
pada Allah, meminta pertolongan kepada-Nya, merendah diri di hadapan-Nya
karena Allah Dzat Pemberi pertolongan. Kita menghadap kepada-Nya dengan
sepenuh hati dan anggota tubuh kita. Jika demikian, di atas jalan ibadah
kita ini sejatinya kita telah memperkuat qiyadah atau kepemimpinan manusia
menuju Allah Azza wa Jalla, dengan terus meminta kekuatan dari-Nya. Qiyadah
Rabbaniyah yang kita berusaha mewujudkan dalam diri kita. Kita beribadah
kepada Pencipta kita dengan Rabbaniyah. Allah berfirman dalam surat
Al-Hajj:41.
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا
الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ
عَاقِبَةُ الأمُورِ (٤١)
“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi
niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat
ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah
kembali segala urusan.”
Amaliyah Dalam Rangka Menghidupkan Rabbaniyah Pada 10 Dzulhijjah
Atas pijakan tersebut, kami ketengahkan beberapa amal dan kegiatan yang
hendaknya dilaksanakan pada hari-hari penuh berkah ini, mengajak orang lain
melaksanakannya, sehingga cakupan keta’atan meluas dan manusia menghadap
kepada Allah pada hari-hari penuh berkah ini. Dengan demikian, rahmat Allah
akan turun kepada kami, kepada negeri dan rakyat kami:
Pertama, mempersiapkan diri untuk menjemputnya. Menghadirkan niat baik untuk
bersungguh-sungguh melaksanakan keta’atan pada waktu tersebut. Sebelum itu,
hendaknya kembali mendekat kepada Allah dengan taubatan nashuha dan
mensucikan hati.
Kedua, berusaha untuk shalat berjama’ah tepat waktu di masjid pada hari-hari
ini. Berusaha dengan semangat menemui takbiratul ihram Imam artinya tidak terlambat takbiratul ihram imam, kemudian menjaga shalat sunnah qabliyah dan
bakdiyah 12 rakaat.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: “مَا
تَوَطَّنَ رَجُلٌ مُسْلِمٌ الْمَسَاجِدَ لِلصَّلاَةِ وَالذِّكْرِ إِلاَّ
تَبَشْبَشَ اللَّهُ لَهُ كَمَا يَتَبَشْبَشُ أَهْلُ الْغَائِبِ بِغَائِبِهِمْ
إِذَا قَدِمَ عَلَيْهِمْ” رواه ابن ماجه.
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw.:
“Tidaklah seorang muslim berangkat ke masjid untuk shalat dan dzikir,
kecuali Allah akan merindukannya sebagaimana kerinduan orang yang lama tidak
berjumpa kemudian ia kembali menemuinya.” HR. Ibnu Majah
Ketiga, menjaga shalat nawafil harian, terutama shalat Dhuha, Witir dan
Qiyamullail. Dalam hadits Qudsi Allah berfirman:
“مَن عادى لي وليًّا فقد آذنتُه بالحرب، وما تَقَرَّبَ إليَّ عبدي بشيء أَحبَّ
إليَّ مما افترضتُهُ عليه، وما يزال عبدي يَتَقَرَّبُ إليَّ بالنوافل حتى
أُحِبَّه؛ فإذا أحببتُه كنتُ سَمْعَه الذي يَسمعُ به، وبَصَرَهُ الذي يُبصِرُ
به، ويَدَهُ التي يَبطِشُ بها، ورِجْلَه التي يَمشِي بها، وإنْ سألني
لأُعطِيَنَّه، ولئن استعاذ بي لأُعيذنَّه…“
“Siapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Dan
tiada mendekat kepada-Ku seorang hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih Ku sukai
daripada menjalankan kewajibannya, dan hamba-Ku senantiasa mendekat
kepada-Ku dengan melakukan sunnat-sunnat, sehingga Ku sukai. Maka apabila
Aku telah kasih padanya, Akulah yang menjadi pendengarannya dan
penglihatannya, dan sebagai tangan yang digunakannya dan kaki yang
dijalankannya, dan apabila ia memohon kepada-Ku pasti Ku-kabulkan, dan jika
berlindung kepada-Ku pasti kulindungi.” HR Bukhari
Keempat, khotmul Qur’an dengan membacanya minimal satu kali pada 10 hari
Dzulhijjah, artinya satu hari tiga juz
Kelima, shuam pada hari-hari tersebut sesuai kemampuan kita, minimal hari
Senin, Kamis dan hari Arafah. Siapa yang dikehendaki Allah shaum semuanya dengan sungguh-sungguh, maka pahalanya menjadi kewajiban bagi Allah atasnya,
dan itu merupakan keutamaan dari Allah yang diberikan kepadanya.
Keenam, berupaya untuk senantiasa berdzikir dan berdoa pada hari-hari ini,
terutama dzikir pagi dan petang, berusaha dzikir kondisi tertentu, do’a
khutmul Qur’an, dzikir mutlak (minimal 1000 perhari) seperti istighfar,
tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan memperbanyak shalawat atas nabi saw.
Ketujuh, hendaknya setiap muslim dan muslimah yang tidak berhaji
menghadirkan kewajiban haji di hatinya, merasakan manasik haji dan
syi’ar-syi’ar lainnya seakan-akan ia bersama mereka. Merasakan makna
pengorbanan, pengabdian dan keta’atan.
Kedelapan, semangat dalam berdo’a pada hari-hari ini, dengan memperhatikan waktu-waktu mustajab setelah shalat, ketika sujud, ketika ifthor, sahur.
Jangan lupakan do’a untuk kemenangan dan kemajuan umat Islam keseluruhan,
terutama saudara-saudara kita di Suriah, Palestina, Burma dan negara-negara
minoritas Muslim agar kezhaliman diangkat dari mereka dan dijauhkan dari
bencana.
Kesembilan, infaq fi sabilillah, terutama sadaqah rahasia, karenanya
Kesembilan, infaq fi sabilillah, terutama sadaqah rahasia, karenanya
bisa memadamkan kemarahan Tuhan. Hendaknya setiap kita menyiapkan dana untuk
dikeluarkan dalam rangka kebaikan.
Kesepuluh, berusaha untuk ibadah di Masjid, yaitu berdiam diri antara waktu fajar sampai matahari terbit, minimal dua kali pada hari-hari ini. Rasul bersabda:
“من صلى الغداة في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كانت
له كأجر حجة وعمرة تامة تامة تامة” (رواه الترمذي وصححه الألباني).
“Siapa yang shalat shubuh berjamaah kemudian duduk mengingat Allah hingga
matahari terbit kemudian shalat sebanyak dua rakaat, maka untuknya pahala
sebagaimana pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna dan sempurna” HR.
Tirmidzi
Kesebelas, menghidupkan sunnah berkorban, berazam untuk melaksanakannya
dikarenakan fadhilah dan pahala yang besar. Rasulullah saw. bersabda:
“ما عمل ابن آدم يوم النحر أحب إلى الله من إهراق الدم، وإنه ليؤتى يوم القيامة
بقرونها وأشعارها وأظلافها، وإن الدم ليقع من الله بمكان قبل أن يقع بالأرض،
فطيبوا بها نفسًا” رواه الترمذي وابن ماجه وصححه الألباني.
“Tidak ada amal yang dilakukan oleh anak Adam lebih disukai oleh Allah di
hari korban selain dari mengalirkan darah (menyembelih qurban). Sesungguhnya
korbannya itu di hari kiamat akan datang menyertai bani Adam dengan
tanduk-tanduknya, bulunya dan kuku-kukunya. Dan darah qurban tersebut akan
menetes di suatu tempat (yang diridlai) Allah sebelum menetes ke bumi, maka
relakanlah korban itu.” HR.Tirmidzi
Keduabelas, hendaknya seorang muslim menganjurkan keluarganya; istri dan anak-anaknya untuk menyambut jamuan Allah swt ini, membantu mereka untuk melaksanakan kebaikan dan keta’atan pada hari-hari ini, sehingga Rabbaniyah hidup di rumah kita. Dan hendaknya setiap muslim berusaha melaksanakan taujihat dan pesan-pesan ini di lingkungannya bersama teman-temannya, dengan tetangganya dan menganjurkan mereka melaksanakannya, karena: “Siapa yang menunjukan kebaikan baginya pahala persis seperti orang yang melakukannya” sehingga manfaatnya meluas dan suasana keta’atan melingkupi semua umat Islam. Dengan demikian kita telah menghidupkan Makna Rabbaniyah pada diri kita, keluarga kita, masyarakat kita dan umat Islam.“Ya Allah, karuniakan kepada kami keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan, saat sendiri atau
dalam keramaian. Karuniakan kepada kami perkataan baik dan benar saat ridha atau ketika marah. Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang menikmati jamuan-Mu di hari-hari yang baik ini. Dan do’a akhir kami bahwa segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” [io]
Wednesday, October 17, 2012
Kelebihan 10 Zulhijjah - perkongsian ilmu pagi ini
Penulis: Ustaz Tajul Arifin bin Che Zakaria (UsTACZ)
Pengerusi JK Tarbiah
Pertubuhan Ikram Malaysia
Di
antara rahmat dan kurniaan Allah kepada umat Muhammad s.a.w. ialah Dia telah menjadikan khusus untuk umat ini hari-hari dan
musim-musim untuk menambah kebaikan dan ganjaran yang berganda. Allah
s.w.t. membuka pintu-pintu dan memberi peluang bagi hamba-hambaNya mendapat
keberkatan dan rahmat.
Di antara hari-hari tersebut ialah hari-hari
sepuluh pertama dari bulan Zulhijjah sebagaimana yang telah dinyatakan Allah
dalam Surah Al-Fajr ayat 1 dan 2:
والفجر
وليال عشر
"Dan demi waktu
fajar dan malam-malam yang sepuluh".
Berkata
Ibnu Kathir: "10 Malam yang dimaksudkan di dalam ayat tersebut ialah malam-malam
bulan Zulhijjah".
Ini jugalah yang disepakati oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid dan ramai dari kalangan ulama' salaf dan khalaf. Pendapat ini telah ditarjihkan oleh majoriti ulama' terutamanya bilamana malam-malam 10 tersebut digandingkan bersama waktu fajar kerana kebanyakan mufassirun (ahli tafsir) mengatakan ia adalah fajar hari Nahr (Hari Raya Qurban dan hari ke 11, 12 dan 13).
Ini jugalah yang disepakati oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid dan ramai dari kalangan ulama' salaf dan khalaf. Pendapat ini telah ditarjihkan oleh majoriti ulama' terutamanya bilamana malam-malam 10 tersebut digandingkan bersama waktu fajar kerana kebanyakan mufassirun (ahli tafsir) mengatakan ia adalah fajar hari Nahr (Hari Raya Qurban dan hari ke 11, 12 dan 13).
Telah
thabit di dalam Sahih Bukhari daripada Ibnu Abbas (hadis marfu'): "Tiada
dari hari-hari untuk beramal soleh padanya terlebih dikasihi kepada Allah
selain hari-hari 10 Zulhijjah ini".
Para sahabat bertanya: "Tidak juga berjihad di jalan Allah? Nabi
s.a.w. bersabda: "Tidak juga berjihad di jalan Allah melainkan seorang
lelaki yang keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian dia tidak lagi membawa pulang apa-apa".
Hari-hari
sepuluh ini termasuk Hari Arafah yang telah thabit di dalam Sahih Muslim darada
Abu Qatadah katanya: Rasulullah s.a.w. berkenaan puasa Hari Arafah. Sabdanya:
"Aku mengharap Allah s.w.t. akan menghapuskan dosa setahun yang lepas dan
akan datang ". Ini pendapat yang paling kuat dalam bab fadhilat Hari-hari
10 Zulhijjah.
Sesetengah
ulama' menafsirkan rahsia di sebalik kelebihan yang besar ini.
Mereka mengatakan ia berkaitan dengan Ibadat Haji dan diakhiri dengan Hari Arafah. Kelebihan hari ini amat besar, demikian juga kelebihan Hari Raya; ia adalah sebesar-besar kemuliaan di sisi Allah Ta'ala kerana padanya terdapat Haji Akbar. Demikian juga faktor-faktor yang membawa kepada kelebihan beramal padanya berkait dengan suasana keamanan di Mekah itu sebagai persediaan menyambut kedatangan bakal-bakal haji, termasuk juga mereka yang ditinggalkan oleh para hujjaj demi menyahut seruan Allah s.w.t. Semua itu demi satu tujuan iaitulah untuk menumpukan perhatian hanya kepada amal ibadat dan zikir dan ia juga peluang untuk menyibukkan diri masing-masing dengan segala jenis amal ibadat solat, puasa, sedekah dan haji.
Mereka mengatakan ia berkaitan dengan Ibadat Haji dan diakhiri dengan Hari Arafah. Kelebihan hari ini amat besar, demikian juga kelebihan Hari Raya; ia adalah sebesar-besar kemuliaan di sisi Allah Ta'ala kerana padanya terdapat Haji Akbar. Demikian juga faktor-faktor yang membawa kepada kelebihan beramal padanya berkait dengan suasana keamanan di Mekah itu sebagai persediaan menyambut kedatangan bakal-bakal haji, termasuk juga mereka yang ditinggalkan oleh para hujjaj demi menyahut seruan Allah s.w.t. Semua itu demi satu tujuan iaitulah untuk menumpukan perhatian hanya kepada amal ibadat dan zikir dan ia juga peluang untuk menyibukkan diri masing-masing dengan segala jenis amal ibadat solat, puasa, sedekah dan haji.
Berkata
Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam kitab Fathul Bari Jilid ke 2 pada muka surat
234:
"Dan yang jelas di sini bahawa sebab mengapa istimewanya 10 Hari dari bulan Zulhijjah kerana ia menjadi tempat terhimpunnya Ummahatul Ibadah padanya(أمهات العبادة), iaitu solat, puasa, sedekah dan haji. Semua ibadat itu tidak terhimpun pada selain bulan Zulhijjah".
"Dan yang jelas di sini bahawa sebab mengapa istimewanya 10 Hari dari bulan Zulhijjah kerana ia menjadi tempat terhimpunnya Ummahatul Ibadah padanya(أمهات العبادة), iaitu solat, puasa, sedekah dan haji. Semua ibadat itu tidak terhimpun pada selain bulan Zulhijjah".
Betapa
besarnya kelebihan hari-hari ini, Allah s.w.t. menjadikannya kembar kepada 10
hari-hari terakhir dari bulan Ramadhan.
Ibnu Qayyim mengambil jalan pertengahan dalam hal ini.
Di dalam kitab Zadul Ma'ad katanya:
"Maka yang benar pada masalah ini ialah: 10 malam akhir daripada Ramadhan lebih afdhal dari 10 malam akhir dari bulan Zulhijjah dan sebaliknya 10 hari dalam bulan Zulhijjah terlebih afdhal dari 10 hari terakhir dalam bulan Ramadhan. Dengan huraian ini, maka hilanglah kekeliruan. Ini menunjukkan bahawa 10 malam dari bulan Ramadhan diberi kelebihan dengan sebab adanya Lailatul Qadar -ia berlaku di waktu malam- dan 10 hari dari bulan Zulhijjah lebih afdhal disebabkan hari-harinya itu iaitu padanya terdapat Hari Nahr (Hari 10,11,12 dan 13), Hari Arafah dan Hari Tarwiyah".
Ibnu Qayyim mengambil jalan pertengahan dalam hal ini.
Di dalam kitab Zadul Ma'ad katanya:
"Maka yang benar pada masalah ini ialah: 10 malam akhir daripada Ramadhan lebih afdhal dari 10 malam akhir dari bulan Zulhijjah dan sebaliknya 10 hari dalam bulan Zulhijjah terlebih afdhal dari 10 hari terakhir dalam bulan Ramadhan. Dengan huraian ini, maka hilanglah kekeliruan. Ini menunjukkan bahawa 10 malam dari bulan Ramadhan diberi kelebihan dengan sebab adanya Lailatul Qadar -ia berlaku di waktu malam- dan 10 hari dari bulan Zulhijjah lebih afdhal disebabkan hari-harinya itu iaitu padanya terdapat Hari Nahr (Hari 10,11,12 dan 13), Hari Arafah dan Hari Tarwiyah".
Persoalannya
apakah 'amal soleh' yang dimaksudkan di dalam hadis riwayat Bukhari di atas?
Adakah ia jenis tertentu dari amal ibadat ataupun semua jenis amal ibadat yang
boleh mendekatkan diri kepada Allah Azzawajalla?
Terdapat
beberapa hadis yang menjelaskan persoalan di atas.
Di antaranya hadis yang telah diriwayatkan oleh At-Tobarani dengan sanad jayyid:
"Tiada hari-hari di sisi Allah dan tiada hari-hari yang paling aku sukai untuk beramal padanya selain Hari-hari 10, maka perbanyakkanlah padanya tasbih, tahmid, tahlil dan takbir".
Di antaranya hadis yang telah diriwayatkan oleh At-Tobarani dengan sanad jayyid:
"Tiada hari-hari di sisi Allah dan tiada hari-hari yang paling aku sukai untuk beramal padanya selain Hari-hari 10, maka perbanyakkanlah padanya tasbih, tahmid, tahlil dan takbir".
Di
dalam Sunan Abu Daud menyatakan bahawa adalah Rasulullah s.a.w. berpuasa pada
hari-hari 10 ini, iaitu selain Hari Raya.
Kesimpulannya:
Allah
s.w.t. telah memuliakan kita semua dengan kedatangan bulan yang mulia ini, maka
marilah sama-sama kita mengambil peluang keemasan ini untuk mendekatkan diri
kepada Allah Azzawajallla. Semoga segala amalan kita diterima dan kita menjadi
hamba-hamba Allah yang bijaksana dalam usaha meraih redhoNya.
Wallahu
A'lam
Sunday, October 14, 2012
Merenung ke Dalam Diri di Sepanjang Jalan Dakwah
Tulisan: Sheikh Mohamed Hamed Eliwa
Terjemahan: UsTACZ
Menjadi kewajipan para duah
(pendakwah) untuk merenung jauh ke dalam diri mereka sendiri dan bermujahadah
dengan bersungguh-sungguh melawan kehendaknya. Mereka hendaklah sentiasa tegas
dalam bermuhasabah dan jangan sekali-kali meremehkan usaha ini dalam apa
keadaan sekalipun. Mereka hendaklah setiasa mengambil ‘azimah’ dalam
bermuhasabah sehinggalah Allah s.w.t. meluruskan urusanNya. Ini disebabkan
jalan dakwah yang sedang dilaluinya ini penuh dengan fitnah (tribulasi) dan
persimpangannya terlalu sukar untuk ditempuhi. Justeru Imam Syahid Hasan
Al-Banna sering mengingatkan para ikhwannya kepada suatu yang menjadi kewajipan
ke atas seseorang al-akh itu bertajuk: (Menghalang berlakunya mudhorat daripada
jiwa dan kewajipan menjaganya).. di dalam pesanannya bagi anggota Ikhwan
Muslimin (IM) pada tahun 1939 setelah selesai berlangsungnya Muktamar Kelima
beliau berkata: “Wahai Ikhwan sekalian, beramal untuk memelihara jiwa kita
sendiri itu adalah kewajipan pertama dalam susunan keutamaan wajibat kita. Maka
hendaklah kamu bersungguh-sungguh
bermujahadah dengan diri kamu. Pastikan diri kamu berada di atas ta’alim Islam
dan hukum-hukumnya. Jangan kamu meremehkan (meringan-ringankan) ta’alim Islam
dan hukum-hukumnya itu dalam apa keadaan sekalipun. Hendaklah kamu sentiasa
berada dalam ketaatan dan larilah kamu dari dosa serta bersihkan diri kamu dari
perkara-perkara maksiat. Hubungkanlah hati-hati dan perasaan kamu sentiasa
dengan Allah yang merupakan pemilik langit dan bumi. Lawanlah kemalasan dan
singkirkan perasaan lemah. Pastikan perasaan dan semangat syabab (pemuda)kamu
terarah kepada kebaikan dan kesucian. Hisablah diri-diri kamu dalam hal ini
dengan penghisaban yang sukar. Berhati-hatilah kamu agar jangan sampai berlalu
kepada kamu satu detik tanpa amal yang baik dan tanpa usaha yang murni bagi
kemaslahatan dakwah ini”.
Di antara perkara yang perlu diambil berat oleh para duah ialah
senantiasa menilik hati dan jiwanya supaya selari antara kata-kata dan
amalannya. Kerana mengajak (berdakwah) manusia kepada kebaikan dalam keadaan
berlakunya percanggahan dengan apa yang kita serukan adalah suatu musibah besar
dan ia adalah satu penyakit yang amat berbahaya. Allah Ta’ala berfirman:
(أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب أفلا
تعقلون)
“Apakah kamu menyuruh manusia dengan kebaikan dan kamu lupa terhadap
diri kamu sendiri, sedangkan kamu membaca Kitab. Apakah kamu tidak berakal?”.
FirmanNya lagi:
( يا أيها الذين آمنوا لم تقولون مالاتفعلون ، كبر مقتا عند الله
أن تقولوا مالاتفعلون )
“Wahai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan suatu yang kamu
tidak kerjakan. Amat besarlah kebencian di sisi Allah s.w.t. bahawa kamu
mengatakan suatu yang kamu tidak kerjakan”.
Telah diriwayatkan bahawa Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi Isa
a.s.:
(يا بن مريم : عظ نفسك فإن اتعظت فعظ الناس وإلا فاستحى منى)
Maksudnya: “Wahai Ibnu Maryam, nasihatilah akan dirimu terlebih dahulu.
Bila kamu telah nasihatkan dirimu, maka nasihatkanlah manusia lain. Jika tidak
demikian, maka malulah kamu kepadaKu”.
Di antara akibat buruk mereka itu pada hari qiamat ialah penghuni syurga
melihat mereka diazab di dalam neraka, lalu mereka (penghuni syurga) bertanya
mereka (dalam neraka): “Apa yang menyebabkan kamu dihumbankan ke neraka?”
Sesungguhnya kami dapat masuk syurga dengan sebab ajaran dan tunjuk ajar kamu
kepada kami ! Lalu mereka menjawab: “Sesungguhnya kami dulu (di dunia) menyuruh
kamu berbuat baik, tetapi kami tidak beramal dengan kebaikan itu, kami dulu (di
dunia) melarang kamu dari kemungkaran, tetapi kami telah melakukan kemungkaran
tersebut. Sesungguhnya ia adalah suatu yang amat malang bagi kami, kami
menyesal sesesal-sesalnya (berlakunya itu di hadapan khalayak ramai pada hari
Qiamat).
Kepatuhan antara kata-kata dan amalan bukan suatu yang senang atas jiwa.
Kerana jiwa manusia dikelilingi nafsu syahwat dan kebiasaan (tabiat). Justeru
wajiblah para duah melakukan riadhah jiwa; bermujahadah dan meniliknya. Antara
faktor yang boleh membantu ke arah itu ialah hubungan dengan Allah s.w.t. dan sentiasa
meminta pertolongan daripadaNya dan kedekatan jiwa di hadapanNya. Oleh itu,
tidak mungkin seorang duah itu mampu menjadi qudwah terhadap apa yang
diucapkannya melainkan apabila dia berjaya memperkukuhkan hubungannya dengan Allah dan mendapatkan pertolongan daripadaNya. Maka
jadilah:
(إياك نعبد وإياك نستعين)
“Hanya kepada Engkau sahaja kami sembah dan hanya kepada Engkau sahaja kami meminta pertolongan”… sebagai
manhaj dan jalannya. Pada ketika itu sahaja Allah s.w.t. pastinya akan
menganugerahkan petunjukNya ke jalan yang lurus, iaitu jalan mereka yang telah
diberi nikmat ke atas mereka itu. Ia akan menolongnya menghadapi fitnah-fitnah
dan simpangsiur di sepanjang jalan dakwah ini. Manusia akan melihat sifat
benarnya, lalu dengan itu Allah Ta’ala akan membuka hati-hati manusia dengan
sifat benar tersebut.
يقول صاحب الظلال (الشهيد سيد قطب) : (إن الكلمة
لتنبعث ميته ، وتصل هامدة مهما تكن طنانة رنانة متحمسة إذا هي لم تنبعث من قلب
يؤمن بها ، ولن يؤمن إنسان بما يقول حقا إلا أن يصبح هو ترجمة حية لما يقول ،
وتجسيما واقعيا لما ينطق ، عندئذ يؤمن الناس ، ويثق الناس ، ولو لم يكن فى تلك
الكلمة طنين ولا بريق ، إنها حينئذ تستمد قوتها من واقعها لامن زينتها ، وتستمد
جمالها من صدقها لا من بريقها ، إنها يومئذ دفعة حياة لأنها منبثقة من حياة)
. فى ظلال القرآن ج1 ص 68 .
Telah berkata pengarang tafsir Fi Zilal Al-Quran (Syahid Syed Qutb):
“Sesungguhnya sesuatu kalimah itu bila keluar dalam keadaan ‘mati’, ia tetap
longlai sekalipun bermotivasi dan kuat bunyinya bilamana ia tidak keluar dari
hati orang yang beriman dengannya. Seseorang insan itu tidak akan dikira
beriman dengan sebenar-benarnya melainkan ia menjadi terjemahan yang hidup pada
apa yang diperkatakan, berjisim dan tampak hidup pada apa yang diucapkan.
Ketika itu insan akan beriman dan akan percaya sekalipun pada kalimah itu tidak
dihiasi dengan keindahan dan kecantikan. Sesungguhnya pada ketika itu kata-kata
itu mendapat kekuatannya dari realitinya, bukan dari perhiasannya. Kecantikan
itu datang dari sifat benarnya. Ia lantas menjadi kuasa/tenaga yang menolak
kehidupan kerana ia terjelma keluar dari kehidupan sebenar”. (Fi Zilal jld 1,
m/s 68)
Kesimpulannya ada dua:
Pertama: Orang yang mengajak orang lain kepada petunjuk sedangkan dia
tidak beramal dengannya samalah seperti lampu yang memberi cahaya kepada
manusia tetapi ia membakar dirinya sendiri. Semoga Allah menyelamatkan kita
semua.
Kedua: Bahawa tanggungjawab duah terhadap orang lain tidak harus
memalingkan mereka dari tanggungjawab terhadap diri mereka sendiri. Dan bahawa
kesibukan mereka berusaha memperbaiki manusia seharusnya tidak memalingkan
mereka daripada mengislahkan hal keadaan mereka. Maka dengan demikian mereka
telah memberi hak kepada yang berhak.
Kita bermohon agar Allah s.w.t. menjadikan batin kita semua lebih baik
dari zahir (lahiriah) kita, yang tersembunyi pada kita lebih baik dari yang
terserlah, dan semoga Allah s.w.t. mengurniakan kita benar dalam ucapan dan
amalan serta ikhlas dalam sunyi dan terbuka.
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Monday, October 8, 2012
Usrah Adalah Qaedah Asas dalam Struktur Dakwah Kita
Tulisan:
Sheikh Mohamed Hamed Eliwa
Terjemahan:
Ustaz Tajul Arifin Che Zakaria (TACZ)
Sesungguhnya
Imam Al-Banna telah menegaskan makna ini ketika bercakap di hadapan Ikhwan pada
suatu hari: “Usrah merupakan Qaedah Asas dalam binaan dakwah kita. Naqib
usrah pula adalah batu penjuru dalam binaan ini”. Ia merupakan kalam pengasas Ikhwan Muslimin (IM) bagi menunjukkan betapa mustahak dan betapa kesatuan dakwah
ini terbina di atas sistem ini. Justeru Imam Al-Banna telah meletakkan Peraturan
Khusus (Laihah Khas) bagi menjamin kelangsungannya berdasarkan disiplin
yang telah ditetapkan dan efektif agar pentarbiyahan individu terlaksana.
Itulah matlamat daripada dakwah ini. Peraturan ini telah ditetapkan pada
bulan Rabi’ul Awal 1362H bersamaan bulan Mac 1943.
Berkenaan Sistem Usrah ini, Imam Al-Banna berkata: “Wahai
Ikhwan sekalian, sistem ini amat berguna untuk kita dan dakwah ini dengan izin
Allah SWT. Ia berfungsi untuk mengontrol (mengawal) ikhwan yang ikhlas dan menjadikan
mereka berada dalam suasana mudah dihubungi dan menerima arahan dari masa ke
semasa untuk kepentingan dakwah yang mulia ini. Ia akan menguatkan ikatan dan
meningkatkan ukhuwah satu sama lain dari tahap kata-kata (teori) ke tahap
perbuatan dan praktikal (pelaksanaan)”.
Usrah adalah Wadah Utama Tarbiyah kerana tarbiyah berdasarkan
Sistem Usrah adalah merupakan tarbiyah sebenar (hakiki) disebabkan beberapa faktor:
(1) Di dalam usrah kehalusan dan kedalaman tarbiyahnya wujud
(kerana bilangan sedikit dan mudah dimutaba’ah dan berlakunya muayasyah).
(2) Di dalam usrah adanya hikmah dan berlakunya proses pemindahan
pengalaman (di bawah seliaan seorang mu’allim dan murabbi iaitu naqib)
berpandukan Manhaj Tarbiyah bersumberkan Al-Quran, As- Sunnah dan terikat
dengan jadual masa secara bertahap dan terarah.
Tatkalamana tarbiyah melalui jalan usrah memungkinkan tersedianya atau terbinanya individu secara Islami dan sempurna, maka ianya (Sistem Usrah) akan berterusan
sekalipun setelah tertegaknya Kerajaan Islam. Kerana tarbiyah melalui jalan
usrah akan berfungsi sebagai pembekal untuk kerajaan memenuhi keperluan sumber
manusia berkualiti. Ciri-ciri insan soleh seumpama itu memang diperlukan oleh
mana-mana kerajaan secara berterusan. Ini bermakna bahawa Sistem Tarbiyah melalui
Usrah adalah Unsur Tetap (thawabit) dakwah IM.
Sebagaimana Usrah merupakan wadah utama tarbiyah, Usrah juga
merupakan Unit bagi mengawal keanggotaan dan tanzim dalam Struktur Jemaah.
Bagaimana mungkin unit keanggotaan (sepenting ini) boleh berubah mengikut situasi dan keadaan?!!
Ingatlah bahawa Unit Keanggotaan adalah sebahagian dari sistem itu.
Ia adalah batu bata dalam struktur binaannya dan tidak mungkin mana-mana binaan
akan kekal bilamana batu bata- batu batanya terpisah (terkeluar) dari struktur
asalnya.
Usrah merupakan keluarga setiap al-akh dan ia adalah kaum kerabat
terdekatnya. Ia merupakan ikatan sebenar dan amat diperlukan bagi menghubungkan
antara individu dan Jemaah. Ia merupakan satu-satunya wasilah yang akan
membantu Jemaah memutaba’ah anggotanya dari pelbagai sudut. Semua kepentingan
tersebut menjadi ciri-ciri khusus bagi usrah.
Tidak ada seorang pun boleh mengatakan bahawa Sistem Usrah merupakan
Unsur Thawabit dalam Islam, tetapi sebagai anggota IM, kita semua telah
bersetuju untuk menjadikannya sebagai salah satu Unsur Thawabit dalam dakwah kita.
Penentuan tersebut sebagai mencontohi tarbiyah yang dilaksanakan
oleh Rasulullah S.A.W. kepada para sahabatnya di Darul Arqam ibn Abi Al-Arqam.
Penentuan tersebut juga berdasarkan pendirian yang diambil oleh Nabi S.A.W. bersama kaum Ansar yang berbai’ah dengan baginda pada Bai’at Aqabah Kedua.
Justeru itu tidak harus ada seorang pun daripada kalangan kita
yang boleh mengeluarkan kenyataan bahawa
Usrah bukan dari Thawabit Ikhwan Muslimin.
Kita tegaskan kepadanya …”tidak sekali-kali tidak”.
Kita tegaskan kepadanya …”tidak sekali-kali tidak”.
Dalam IM, Usrah merupakan Unsur Tetap (tidak berubah)
daripada Thawabit Sistem Tarbiyah dan keanggotaan kerana ia adalah wadah
tarbiyah utama dan unit keanggotaan dalam struktur tanzim Jemaah. Lebih-lebih
lagi ia juga merupakan unit terpenting untuk kelangsungan individu dan
jemaahnya....
وآخر دعوانا أن
الحمد لله رب العالمين
Saturday, September 29, 2012
PANDUAN NABI S.A.W. UNTUK MENJADI USAHAWAN BERJAYA
Diambil dari:
http://blogahmadtarmizi-miji.blogspot.com/2009/02/panduan-perniagaan-oleh-nabi-muhammad.html
Sebenarnya Nabi Muhammad SAW ada memberi panduan dalam mencari nafkah atau menjadi usahawan. Sila lihat hadith yang dikutip oleh Sayid Sabiq dalam kitabnya ‘Anasirul Quwati fil Islam’, berkata Anas RA lebih kurang begini...
Seorang pemuda dari kalangan sahabat Ansar datang kepada beliau meminta-minta. Kata beliau, “Engkau.. takde apa-apakah di rumah?”
“Ada!” Jawab pemuda Ansar itu. “Hanya sehelai tikar dan sebuah takar (tempat air minum) sahaja..”
“Bawa kedua-dua barangan itu ke mari!!” Arah Nabi.
Pemuda itu pun pergi mengambilnya dan membawa kepada Nabi. Nabi terus membuat tawaran, menjual secara lelong barangan tersebut kepada kawan-kawan di situ. Dijual dengan harga paling tinggi, iaitu 2 dirham.
“Nah! Satu dirham engkau beli makanan untuk keluraga engkau, dan bakinya engkau beli sebuah kapak!” Saran Nabi. “.. bawa kapak itu kemari!!”
Pemuda itu terus mempraktikkan idea tersebut, ia kembali dengan sebuah kapak yang baru dibeli. Nabi mengambilnya dan mengikat pada sebatang tongkat (yakni siapkan hulu hingga boleh terus guna), dan menyerah balik. Katanya, “Pergilah cari kayu api dengan kapak ini, dan juallah hasilnya! Jangan sampai aku nampak kamu lagi selama 15 hari (dari sekarang)!!”
Selepas 15 hari berlalu, kembalilah kawan itu, dia berjaya mengumpulkan wang sebanyak 10 dirham. Sebahagian dibeli makanan dan sebahagian lagi pakaian.
“Hal ini adalah lebih baik dari engkau datang di Hari Kiamat dengan wajahmu bernoda, tanda meminta-minta.” Jelas Nabi lagi. (Hadith dirawikan oleh Abu Daud).
Hadith ini menggambarkan pengangguran, kemiskinan dan meminta-minta memang ada, walaupun perlu dihapuskan. Nabi mencetuskan idea kreatif, bagaimana menjadi usahawan, dapatkan modal, memotivasi (contohnya tempoh 15 hari sasaran masa ditetapkan), kecekapan melihat pasaran (waktu itu jual bahan bakar atau kayu api) dan sebagainya. Memang hebat Nabi Muhammad SAW.
Pengalaman masa mudanya pernah jadi usahawan. Pernah jadi gembala kambing sebagai tarbiah kepimpinan (Ingat hadith Nabi, setiap kamu adalah pengembala...). Pernah berkongsi atau usahasama niaga dengan ahli bisnes kecil As-Saa’ib bin Abis Saa’ib. Pernah berniaga import-eksport Mekah-Syam, di mana sumber ‘finance’nya ialah Khadijah sendiri walaupun waktu itu masih belum jadi isterinya (akhirnya taukeh finance itu jadi isteri atau miliknya).
Dikatakan beliaulah pencetus idea-niaga ‘surung makan, tarik pun makan’, pergi ke Syam membawa dagangan dari Mekah, pulang membawa dagangan dari Syam. Di mana amalan sebelum itu cuma pergi membeli dagangan untuk penduduk Mekah dari Syam sahaja. Dengan itu penduduk Mekah dapat menikmati barang keperluan dengan harga yang lebih rendah.
Begitu juga ramai tokoh-tokoh usahawan yang berjaya, adalah anakdidik beliau, seperti Abdul Rahman bin Auf, Usman bin Affan dan sebagainya yang dijamin syurga. Mereka bukan sahaja berjaya dari sudut usahawan semata-mata, bahkan menjadi tokoh-tokoh politik dan pemimpin perjuangan Islam.
Bahan berkaitan:
http://www.motivasisantai.com/motivasi-bisnes/2012/06/05/berniaga-cara-nabi-muhammad-saw/
http://blogahmadtarmizi-miji.blogspot.com/2009/02/panduan-perniagaan-oleh-nabi-muhammad.html
Sebenarnya Nabi Muhammad SAW ada memberi panduan dalam mencari nafkah atau menjadi usahawan. Sila lihat hadith yang dikutip oleh Sayid Sabiq dalam kitabnya ‘Anasirul Quwati fil Islam’, berkata Anas RA lebih kurang begini...
Seorang pemuda dari kalangan sahabat Ansar datang kepada beliau meminta-minta. Kata beliau, “Engkau.. takde apa-apakah di rumah?”
“Ada!” Jawab pemuda Ansar itu. “Hanya sehelai tikar dan sebuah takar (tempat air minum) sahaja..”
“Bawa kedua-dua barangan itu ke mari!!” Arah Nabi.
Pemuda itu pun pergi mengambilnya dan membawa kepada Nabi. Nabi terus membuat tawaran, menjual secara lelong barangan tersebut kepada kawan-kawan di situ. Dijual dengan harga paling tinggi, iaitu 2 dirham.
“Nah! Satu dirham engkau beli makanan untuk keluraga engkau, dan bakinya engkau beli sebuah kapak!” Saran Nabi. “.. bawa kapak itu kemari!!”
Pemuda itu terus mempraktikkan idea tersebut, ia kembali dengan sebuah kapak yang baru dibeli. Nabi mengambilnya dan mengikat pada sebatang tongkat (yakni siapkan hulu hingga boleh terus guna), dan menyerah balik. Katanya, “Pergilah cari kayu api dengan kapak ini, dan juallah hasilnya! Jangan sampai aku nampak kamu lagi selama 15 hari (dari sekarang)!!”
Selepas 15 hari berlalu, kembalilah kawan itu, dia berjaya mengumpulkan wang sebanyak 10 dirham. Sebahagian dibeli makanan dan sebahagian lagi pakaian.
“Hal ini adalah lebih baik dari engkau datang di Hari Kiamat dengan wajahmu bernoda, tanda meminta-minta.” Jelas Nabi lagi. (Hadith dirawikan oleh Abu Daud).
Hadith ini menggambarkan pengangguran, kemiskinan dan meminta-minta memang ada, walaupun perlu dihapuskan. Nabi mencetuskan idea kreatif, bagaimana menjadi usahawan, dapatkan modal, memotivasi (contohnya tempoh 15 hari sasaran masa ditetapkan), kecekapan melihat pasaran (waktu itu jual bahan bakar atau kayu api) dan sebagainya. Memang hebat Nabi Muhammad SAW.
Pengalaman masa mudanya pernah jadi usahawan. Pernah jadi gembala kambing sebagai tarbiah kepimpinan (Ingat hadith Nabi, setiap kamu adalah pengembala...). Pernah berkongsi atau usahasama niaga dengan ahli bisnes kecil As-Saa’ib bin Abis Saa’ib. Pernah berniaga import-eksport Mekah-Syam, di mana sumber ‘finance’nya ialah Khadijah sendiri walaupun waktu itu masih belum jadi isterinya (akhirnya taukeh finance itu jadi isteri atau miliknya).
Dikatakan beliaulah pencetus idea-niaga ‘surung makan, tarik pun makan’, pergi ke Syam membawa dagangan dari Mekah, pulang membawa dagangan dari Syam. Di mana amalan sebelum itu cuma pergi membeli dagangan untuk penduduk Mekah dari Syam sahaja. Dengan itu penduduk Mekah dapat menikmati barang keperluan dengan harga yang lebih rendah.
Begitu juga ramai tokoh-tokoh usahawan yang berjaya, adalah anakdidik beliau, seperti Abdul Rahman bin Auf, Usman bin Affan dan sebagainya yang dijamin syurga. Mereka bukan sahaja berjaya dari sudut usahawan semata-mata, bahkan menjadi tokoh-tokoh politik dan pemimpin perjuangan Islam.
Bahan berkaitan:
http://www.motivasisantai.com/motivasi-bisnes/2012/06/05/berniaga-cara-nabi-muhammad-saw/
Subscribe to:
Posts (Atom)


