
Tuesday, April 14, 2009
Ziarah menziarahi dituntut daripada kita......

Sunday, April 5, 2009
Apakah Berbai'ah Kepada Jamaah Minal Muslimin Merupakan Bid’ah?
(Hal Al-Bay’ah Lil Jama’ah Minal Muslimin Hiyal Bid’ah?)
Bai’ah Menurut Arti Lughah
Berasal dari kata ba-ya-’a yang artinya menjual atau juga membeli. Dikatakan bi’tu-syai’in artinya syaraytuhu (aku telah menjualnya); ia juga bisa berarti isytaraytuhu (aku telah membelinya), sehingga ia memiliki arti ganda [1].
Juga dapat bermakna ketaatan, al-bay’ah (Malaysia: bai’ah atau bai’at) artinya al-mutaba’ah (mengikuti) wa ath-tha’ah (mentaati) [2]. Disebut Al-Bay’ah kerana kesediaan si penerima bay’ah tersebut untuk mengikuti dan taat [3].
Juga bererti akad atau janji, al-aqdu/al-’ahdu, sebagaimana dalam hadis disebutkan: "Dosa yang paling besar dari dosa-dosa besar adalah kamu memerangi kaum yang ada perjanjian dengan kamu [4].
Ia juga dapat bererti gereja, al-bii’ah, sebagaimana dalam kitab Shahih Al-Bukhari, dalam bab “Ash-Shalatu fil Bi’ah (Hukum Shalat di dalam Gereja) [5]”
Bai’ah Dalam Al-Qur’an
Kedua makna bai’ah di atas dapat kita temui dalam Al-Qur’an Al-Karim, sementara makna yang ketiga kita dapatkan dalam Al-Hadis.
Dalam makna pertama (jual-beli), seperti dalam Surah Al-Baqarah 2/282 berikut ini:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mendiktekan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mendiktekan, maka hendaklah walinya mendiktekan dengan jujur dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu) jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya, janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya, yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan, jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
Dalam makna kedua (ketaatan dan mengikuti perintah) terbahagi dua, iaitu bay’ah-nisa’ (hanya mendengar dan taat) sebagaimana dalam Surah Al-Mumtahanah 60/12 bermaksud:
“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dalam Surah Al-Fath 48/10 dan ayat 18-nya bermaksud:
“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia [6] kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah, tangan Allah di atas tangan mereka [7], maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”
“Sesungguhnya Allah Telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) [8].”
Bai’ah Dalam As-Sunnah
Bai’ah yang disebutkan dalam As-Sunnah adalah sangat banyak, di antaranya adalah sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis shahih dan hasan berikut ini:
1. “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh ALLAH SWT pada Hari Kiamat… dan orang yang telah mem-bai’ah seorang Imam lalu jika Imam itu memberi kepadanya maka iapun setia dan jika Imam itu tidak memberinya maka iapun tidak setia kepadanya. [9]”
2. “Barangsiapa mem-bai’ah seorang Imam lalu Imam tersebut memberikan buah hatinya dan menghulurkan tangannya, maka hendaklah ia mentaatinya sedapat mungkin dan apabila ada Imam lain yang menyainginya maka hendaklah mereka memukul leher Imam yang datang kemudian itu. [10]”
3. “Adalah Bani Isra’il dipimpin oleh para Nabi, tiap kali Nabi wafat, maka digantikan oleh Nabi berikutnya. Dan sesungguhnya tidak ada lagi Nabi selepasku, tetapi akan ada para Khalifah, mereka ramai jumlahnya. Para sahabat bertanya: Apa yang Anda perintahkan kepada kami? Nabi SAW bersabda: Patuhilah bai’ah pertama, berikanlah hak mereka, kerana ALLAH akan menanyakan kepada mereka apa yang menjadi tanggungjawab mereka. [11]”
4. “… Lalu apa yang anda perintahkan kepadaku wahai RasuluLLAH? Maka Nabi SAW bersabda: Penuhilah bai’ah yang pertama kerana itulah yang utama dan berikanlah pada mereka hak mereka, kerana sesungguhnya ALLAH SWT akan menanyakan pada mereka tentang tanggungjawab mereka. [12]”
5. “Barangsiapa mem-bai’ah seorang Amir tanpa bermusyawarah dengan kaum muslimin, maka tidak ada bai’ah baginya dan tidak ada bai’ah bagi yang mem-bai’ah-nya. [13]”
6. “Apabila di-bai’ah 2 orang Khalifah, maka bunuhlah Khalifah yang terakhir dari keduanya. [14]”
7. “Barangsiapa yang meninggal dan di lehernya tidak ada bai’ah maka ia mati dalam keadaan Jahiliyyah. [15]”
Bai’ah Boleh Dilakukan Kepada Selain Imamah-’Uzhma Pada Masa As-Salafus-Shalih
1. Sebahagian kaum muslimin mem-bai’ah Mu’awiyah – semoga ALLAH meredhainya - saat Ali bin Abi Thalib – semoga ALLAH meredhainya - masih menjabat sebagai khalifah yang sah [16], dan hal ini tidak diingkari oleh Nabi – semoga shalawat dan salam selalu tercurah pada baginda -, baginda hanya menyebut Ali – semoga ALLAH meredhainya - “lebih dekat pada kebenaran” [17].
2. Bahkan sebahagian Ulama yang tajam bashirahnya, menyatakan bahawa terdapat hikmah besar dari peristiwa peperangan di masa Ali – semoga ALLAH meredhainya - kerana dengan keluhuran & keluasan ilmunya sebagai sahabat generasi pertama kita dapat meletakkan dasar-dasar & kaedah-kaedah syariat yang amat berharga jika terjadi perselisihan antara 2 kelompok kaum muslimin serta hukum-hukum fiqh di sekitar peperangan antara sesama Ahli Kiblat [18].
3. Sebagian kaum muslimin ber-bai’ah pada Ummul Mu’minin Aisyah – semoga ALLAH meredhainya - dan berperang bersamanya melawan Khalifah Ali – semoga ALLAH meredhainya - dan Nabi – semoga shalawat & salam selalu tercurah pada baginda - tidak mencaci Aisyah – semoga ALLAH meredhainya - bahkan meminta Ali – semoga ALLAH meredhainya - agar memperlakukannya dengan lembut [19].
4. Sebahagian kaum muslimin juga mem-bai’ah Al-Hasan bin Ali – semoga ALLAH meredhainya - di masa pemerintahan Mu’awiyyah – semoga ALLAH meredhainya - masih berkuasa, dan tidak diingkari oleh para shahabat yang lainnya [20]. Dan Nabi – semoga shalawat & salam selalu tercurah pada baginda - menamakan kedua kelompok tersebut keduanya muslim, sebagaimana dalam sabdanya: “Cucuku ini adalah pemimpin pemuda Ahli Syurga, semoga ALLAH mendamaikan 2 kelompok kaum muslimin yang berselisih melalui dirinya. [21]”
5. Sebahagian kaum muslimin juga mem-bai’ah Yazid bin Mu’awiyah, sementara sebahagiannya mem-bai’ah Al-Husein bin Ali [22].
6. Kaum muslimin mem-bai’ah para tokoh selain Khalifah, seperti yang dilakukan oleh qabilah Nakha’i terhadap Al-Asytar, menjelang perang Shiffin [23].
Menolak Ber-Bai’ah Pada Penguasa Yang Sah Karena Sesuatu Hal Juga Tidak Diingkari Oleh As-Salafus-Shalih
1. Ali – semoga ALLAH meredhainya - berkata pada Sa’ad bin Abi Waqqash – semoga ALLAH meredhainya: “Ber-bai’ahlah Engkau!” Sa’ad menjawab: “Aku tidak akan ber-bai’ah sebelum orang-orang semua ber-bai’ah. Tapi demi ALLAH tidak ada persoalan apa-apa bagiku.” Mendengar itu Ali – semoga ALLAH meredhainya - berkata: “Biarkanlah dia.” Lalu Ali – semoga ALLAH meredhainya - menemui Ibnu Umar – semoga ALLAH meredhainya - dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umar – semoga ALLAH meredhainya: “Aku tidak akan ber-bai’ah sebelum orang-orang semua ber-bai’ah.” Jawab Ali – semoga ALLAH meredhainya: “Berilah aku jaminan.” Jawab Ibnu Umar – semoga ALLAH meredhainya: “Aku tidak punya orang yang mampu memberi jaminan.” Lalu Al-Asytar berkata: “Biar kupenggal lehernya!” Jawab Ali – semoga ALLAH meredhainya: “Akulah jaminannya, biarkan dia. [24]”
2. Imam Al-Waqidi mencatatkan ada 7 orang shahabat besar yang tidak memberikan bai’ah kepada Khalifah Ali – semoga ALLAH meredhainya - iaitu: Sa’ad bin Abi Waqqash, AbduLLAH bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin Tsabbit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa’ dan Usamah bin Zaid – semoga ALLAH meredhai mereka [25].
Keluar dari Ketaatan dan Memberontak Kepada Imamah ‘Uzhma Juga Dibenarkan Oleh As-Salafus-Shalih Bagi Menghasilkan Mashlahat Da’wah yang Lebih Besar
1. Sa’id bin Jubair, Syurahbil bin Amir Asy-Sya’biy, dan Al-Asy’ats bin Qays memerangi Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafiy, di antaranya pada peperangan yang terkenal sebagai peristiwa Dairul Jamahim [26].
2. Bahkan di dalam kitab-kitab Ash-Shahih selain hadis-hadis tentang perintah agar kaum muslimin bersabar kepada penguasa yang zalim, dibolehkan juga memberontak kepada Khalifah jika telah ditemui tanda-tanda kekufuran yang terang-terangan [27].
Batasan Sahnya Jumlah Orang yang Mem-Bai’ah Menurut Para Ulama Usul
1. Sebahagian Ahli Usul berpendapat bahwa bai’ah sah dilakukan oleh minima 5 orang, baik kelimanya yang mengusulkan maupun salah satu mengusulkan dan disepakati oleh yang lainnya, hal ini berdasarkan dalil pengangkatan Abu Bakar – semoga ALLAH meredhainya - dilakukan oleh 5 orang sahabat. Bahkan para fuqaha Kufah berpendapat 3 orang sudah sah, kerana didasarkan pada sahnya akad nikah [28].
2. Imam Al-Mawardi berkata bahawa pengangkatan Imam ini hukumnya fardhu kifayah, dan kewajiban ini sejajar dengan kewajiban jihad dan menuntut ilmu. Sehingga jika seseorang telah melakukannya dan ia memang memenuhi syarat sesuai syari’ah, maka terlepaslah kewajiban masyarakat pada umumnya [29].
Bahayanya Berpegang Kepada Zhahir Hadis Saja dan Mengabaikan Fiqh Maqashid-Syari’ah dalam Masalah Ini
Disebutkan dalam hadis-hadis sahih bahawa jika kaum muslimin saling berperang maka kedua kelompok yang berperang tersebut masuk neraka, bermaksud:
1. “Apabila 2 orang muslim berhadapan dengan pedangnya masing-masing maka yang membunuh dan terbunuh di dalam neraka.” [30]
2. “Dunia ini tidak akan Kiamat sebelum datang pada manusia suatu zaman saat pembunuh tidak tahu kenapa ia membunuh dan yang dibunuh pun tidak tahu kenapa ia dibunuh. Tanya para sahabat RA: “Bagaimana nasib mereka wahai RasuluLLAH?” Jawab Nabi SAW: “Binasa! Pembunuh dan yang dibunuh akan masuk neraka.” [31]
Jelaslah jika kita hanya berpegang kepada zahir hadis saja, tanpa mendalami ilmu fiqh, maka berdasarkan zahir hadis di atas kedua kelompok para sahabat RA yang berperang sebagaimana disebutkan di atas, keduanya akan masuk neraka, kita berlindung kepada ALLAH – Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi - dari pemahaman seperti ini..
Takutlah kepada ALLAH dari sikap su’uzhan kepada sesama kaum muslimin yang berijtihad, dan hendaklah kita berperasangka baik kepada saudara-saudara kita dari kelompok muslimin yang lain, karena ilmu itu bukan monopoli seseorang atau sekelompok orang saja, wa fawqa kulla dzii ‘ilmin ‘aliim..
WaLLAHu a’lam bish Shawab
Nota Kaki:
[1] Ash-Shihhah fil Lughah, Al-Jauhary, I/60; Lisanul Arab, Ibnu Manzhur, VIII/23; Tajul ‘Arus, Az-Zubaidi, I/5119
[2] Al-Mukhashshish, Ibnu Sayyidihi, I/276
[3] Tahdzibu Al-Lughah, Al-Azhariy, I/392
[4] Al-Qamus Al-Fiqhi, I/213
[5] Al-Jami’us-Shahih, Al-Bukhari, II/213
[6] Pada bulan Zulkaidah tahun keenam Hijriyyah nabi Muhammad s.a.w. beserta pengikut-pengikutnya hendak mengunjungi Mekkah untuk melakukan ‘umrah dan melihat keluarga-keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Utsman bin Affan lebih dahulu ke Mekah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kamu muslimin. Mereka menanti-nanti kembalinya Utsman, tetapi tidak juga datang Karena Utsman ditahan oleh kaum musyrikin kemudian tersiar lagi kabar bahwa Utsman Telah dibunuh. Karena itu nabi menganjurkan agar kamu muslimin melakukan bai’ah (janji setia) kepada beliau. Merekapun mengadakan janji setia kepada nabi dan mereka akan memerangi kamu Quraisy bersama nabi sampai kemenangan tercapai. perjanjian setia ini telah diridhai Allah sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surat ini, Karena itu disebut Bai’atur Ridwan. Bai’atur Ridwan ini menggetarkan kaum musyrikin, sehingga mereka melepaskan Utsman dan mengirim utusan untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin. Perjanjian ini terkenal dengan Shulhul Hudaibiyah.
[7] Orang yang berjanji setia biasanya berjabatan tangan, caranya berjanji setia dengan Rasul ialah meletakkan tangan Rasul di atas tangan orang yang berjanji itu. Jadi maksud tangan Allah di atas mereka ialah untuk menyatakan bahwa berjanji dengan Rasulullah sama dengan berjanji dengan Allah. Jadi seakan-akan Allah di atas tangan orang-orang yang berjanji itu, hendaklah diperhatikan bahwa Allah Maha Suci dari segala sifat-sifat yang menyerupai makhluknya.
[8] Yang dimaksud dengan kemenangan yang dekat ialah kemenangan kaum muslimin pada perang Khaibar.
[9] HR Al-Bukhari, V/9; lih. juga dalam Al-Fath, XIII/35
[10] HR Muslim III/1472-1473; Nasa’i, VII/152-153; Abu Daud, IV/97; Ibnu Majah, II/1306
[11] HR Bukhari, V/401; Muslim, III/1471; Ibnu Majah, II/958; Ahmad, II/297
[12] HR Muslim, III/1472 ini adalah lafazh-nya; Bukhari, V/403; Al-Fath, VI/495; Ibnu Majah, II/958-959; Ahmad, II/297
[13] HR Ahmad dalam Al-Musnad, dan ini adalah lafzh-nya; Al-Fath, XII/145
[14] HR Muslim, III/1480; Ahmad, III/95
[15] HR Muslim, III/1478
[16] Usud Al-Ghabah, Ibnul Atsir, I/113
[17] HR Muslim, VII/168
[18] At-Tamhid fi Ar-Radd ‘alal Mulhidah, Al-Baqillani, hal. 229
[19] HR Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala Shahihain, III/119
[20] Ibid, I/265
[21] HR Al-Bukhari, VIII/94
[22] Ibid, II/193
[23] HR Ibnu Abi Syaibah & Al-Hakim, dari Umar bin Sa’id An-Nakha’i
[24] Al-Milal wa An-Nihal, Ibnu Hazm, IV/103 dari riwayat Imam At-Thabari
[25] Tarikh Ar-Rusul, Al-Waqidi, IV/429
[26] Tarikh Ar-Rusul wal Mulk, At-Thabary, VI/346
[27] HR Al-Bukhari, VIII/88
[28] Tarikh Ar-Rusul wal Mulk, At-Thabary, IV/497-498
[29] Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, Al-Mawardi, hal. 4
[30] Fathul Bari’, Ibnu Hajar, XIII/34
[31] Fathul Bari’, XIII/34
Hukum Menggabungkan Diri Kepada Jama'ah (Bhg.2)
حكم الإنتماء للجماعة
Oleh Samahatus Syaikh Abdul ’AZIZ Bin AbduLLAAH Bin Baaz RahimahuLLAAH wa hafazhahu
س6 : يتساءل كثير من شباب الإسلام عن حكم الانتماء للجماعات الإسلامية ، والالتزام بمنهج جماعة معينة دون سواها؟
TANYA: Ramai para pemuda Islam yang bertanya tentang hukum bergabung dengan berbagai Jama’ah Islamiyyah dan komitmen dengan manhaj sebuah jama’ah tertentu saja, tanpa komitmen dengan manhaj jama’ah lainnya?
ج6 : الواجب على كل إنسان أن يلتزم بالحق ، قال الله عز وجل ، وقال رسوله صلى الله عليه وسلم ، وألا يلتزم بمنهج أي جماعة لا إخوان مسلمين ولا أنصار سنة ولا غيرهم ، ولكن يلتزم بالحق ، وإذا انتسب إلى أنصار السنة وساعدهم في الحق ، أو إلى الإخوان المسلمين ووافقهم على الحق من دون غلو ولا تفريط فلا بأس ، أما أن يلزم قولهم ولا يحيد عنه فهذا لا يجوز ، وعليه أن يدور مع الحق حيث دار ، إن كان الحق مع الإخوان المسلمين أخذ به ، وإن كان مع أنصار السنة أخذ به ، وإن كان مع غيرهم أخذ به ، يدور مع الحق ، يعين الجماعات الأخرى في الحق ، ولكن لا يلتزم بمذهب معين لا يحيد عنه ولو كان باطلا ، ولو كان غلطا ، فهذا منكر ، وهذا لا يجوز ، ولكن مع الجماعة في كل حق ، وليس معهم فيما أخطئوا فيه .
JAWABAN: Yang wajib bagi setiap manusia untuk komitmen pada kebenaran, yaitu firman ALLAAH SWT dan sabda Nabi SAW dan untuk tidak komitmen kepada manhaj jama’ah manapun, tidak kepada Ikhwanul-Muslimin, tidak juga kepada Ansharus-Sunnah, tidak juga kepada apapun selain mereka. Tetapi komitmen dengan kebenaran.
Adapun jika ia bergabung dengan Ansharus-Sunnah lalu membantunya dalam kebenaran, atau dengan Ikhwanul Muslimin dan menyertai mereka dalam kebenaran tanpa bersikap ekstrem atau berlebihan MAKA HUKUMNYA TIDAK MENGAPA (la ba’sa). Adapun jika mereka komitmen kepada ucapan mereka tanpa ada batasan (ketaatan mutlak) maka yang demikian ini tidak boleh.
Maka hendaklah ia beredar bersama kebenaran ke mana saja kebenaran tersebut beredar. Jika kebenaran ada pada Ikhwanul Muslimin maka iapun mengambilnya, jika kebenaran ada pada Ansharus-Sunnah maka ia mengambilnya, dan jika kebenaran ada pada selain mereka berdua maka iapun mengambilnya.
Ia beredar bersama kebenaran, menolong jama’ah-jama’ah yang lain juga dalam menegakkan kebenaran, tetapi ia tidak boleh komitmen kepada suatu mazhab tertentu secara mutlak sekalipun mazhab tersebut bathil, seandainya terjadi demikian maka ini adalah munkar & tidak boleh, tetapi ia bersama jama’ah tertentu tersebut selama jama’ah tersebut berada dalam kebenaran dan tidak bersama mereka jika mereka banyak kesilapannya. []
Hukum Menggabungkan Diri Kepada Jama'ah (Bhg.1)
حكم الإنتماء للجماعة
Oleh Samahatus Syaikh Abdul ’AZIZ Bin AbduLLAAH Bin Baaz RahimahuLLAAH wa hafazhahu
س 7: إذا يا شيخنا الكريم ، الذي يقول: بأن هذه الجماعات الإسلامية من الفرق التي تدعو إلى جهنم والتي أمر النبي باعتزالها فهمه على كلامكم غير صحيح؟
Begini wahai syaikhunal kariem, ada orang yang mengatakan: bahwasanya Jama’ah-Jama’ah Islamiyyah yang ada saat ini termasuk perpecahan yang memanggil (pelakunya) ke neraka Jahannam yang diperintahkan oleh Nabi SAW untuk menjauhinya, apakah pemahaman ini menurut anda benar atau tidak?
ج 7: الذي يدعو إلى كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم ليس من الفرق الضالة ، بل هو من الفرق الناجية المذكورة في قوله صلى الله عليه وسلم: افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة وافترقت النصارى على اثنين وسبعين فرقة وستفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة قيل ومن هي يا رسول الله؟ قال من كان على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي وفي لفظ: ” هي الجماعة ” .
Mereka yang menyeru pada KitabuLLAAH & sunnah Rasul-NYA SAW tidaklah termasuk firqah yang sesat, bahkan ia termasuk firqah yang selamat yang disebutkan dalam sabda Nabi SAW: Berpecah Yahudi menjadi 71 golongan, berpecah Nasrani ke dalam 72 golongan, dan akan berpecah ummatku ke dalam 73 golongan, semua di neraka kecuali 1, lalu ditanyakan: Siapa mereka wahai RasuluLLAAH? Jawab beliau SAW: Yaitu mereka yang seumpama aku atasnya hari ini & para sahabatku. Dalam lafzh yang lain: Al-Jama’ah.
والمعنى: أن الفرقة الناجية: هي الجماعة المستقيمة على ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه رضي الله عنهم . من توحيد الله ، وطاعة أوامره وترك نواهيه ، والاستقامة على ذلك قولا وعملا وعقيدة ، هم أهل الحق وهم دعاة الهدى ولو تفرقوا في البلاد ، يكون منهم في الجزيرة العربية ، ويكون منهم في الشام ، ويكون منهم في أمريكا ، ويكون منهم في مصر ، ويكون منهم في دول أفريقيا ، ويكون منهم في آسيا ، فهم جماعات كثيرة يعرفون بعقيدتهم وأعمالهم ، فإذا كانوا على طريقة التوحيد والإيمان بالله ورسوله ، والاستقامة على دين الله الذي جاء به الكتاب وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم فهم أهل السنة والجماعة وإن كانوا في جهات كثيرة ، ولكن في آخر الزمان يقلون جدا .
Maknanya: Bahwa firqah yang selamat adalah Jama’ah yang lurus sesuai dengan Nabi SAW & para sahabatnya RA, dalam mentauhidkan ALLAH SWT, mentaati perintahnya dan menjauhi larangannya, istiqamah atas hal tersebut baik perkataan, perbuatan dan aqidah, mereka itu adalah Ahlul Haqq dan mereka adalah para da’i kepada petunjuk, sekalipun mereka tercerai-berai di pelosok negeri. Mereka ada yang di Jazirah Arab, ada yang di Syam (Iraq, Syria), ada yang di Amerika, ada yang di Mesir, ada yang di negeri Afrika, ada yang di Asia, mereka adalah JAMA’AH YANG BANYAK SEKALI yang dikenali melalui aqidah dan amal-amal mereka, tetapi mereka berada di atas jalan Tauhid & Iman pada ALLAAH & Rasul-NYA & istiqamah di atas DinuLLAAH yang datang atasnya Al-Qur’an & Sunnah RasuluLLAAH SAW, maka mereka semua adalah AHLUS-SUNNAH dan AL-JAMA’AH, sekalipun mereka DALAM BENTUK YANG BERAGAM, tetapi di akhir zaman mereka sedikit sekali.
فالحاصل: أن الضابط هو استقامتهم على الحق ، فإذا وجد إنسان أو جماعة تدعو إلى كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم ، وتدعو إلى توحيد الله واتباع شريعته فهؤلاء هم الجماعة ، وهم من الفرقة الناجية ، وأما من دعا إلى غير كتاب الله ، أو إلى غير سنة الرسول صلى الله عليه وسلم فهذا ليس من الجماعة ، بل من الفرق الضالة الهالكة ، وإنما الفرقة الناجية: دعاة الكتاب والسنة ، وإن كانت منهم جماعة هنا وجماعة هناك ما دام الهدف والعقيدة واحدة ، فلا يضر كون هذه تسمى: أنصار السنة ، وهذه تسمى: الإخوان المسلمين ، وهده تسمى: كذا ، المهم عقيدتهم وعملهم ، فإذا استقاموا على الحق وعلى توحيد الله والإخلاص له واتباع رسول الله صلى الله عليه وسلم قولا وعملا وعقيدة فالأسماء لا تضرهم ، لكن عليهم أن يتقوا الله ، وأن يصدقوا في ذلك ، وإذا تسمى بعضهم بـ: أنصار السنة ، وتسمى بعضهم بـ: السلفيين ، أو بالإخوان المسلمين ، أو تسمى بعضهم بـ: جماعة كذا ، لا يضر إذا جاء الصدق ، واستقاموا على الحق باتباع كتاب الله والسنة وتحكيمهما والاستقامة عليهما عقيدة وقولا وعملا ، وإذا أخطأت الجماعة في شيء فالواجب على أهل العلم تنبيهها وإرشادها إلى الحق إذا اتضح دليله .
Alhasil yang dipegang adalah istiqamah mereka di atas al-haq, jika ditemukan manusia atau JAMA’AH yang mengajak kepada KitabuLLAAH dan Sunnah Rasul-NYA SAW, mengajak mentauhidkan ALLAAH SWT dan mengikuti syariat-NYA maka MEREKA SEMUA ITULAH AL-JAMA’AH, DAN MEREKA TERMASUK FIRQAH NAJIYYAH. Adapun mereka yang menyeru kepada selain kitabuLLAAH, atau kepada selain sunnah Ar-Rasul SAW maka mereka itu bukan termasuk Al-Jama’ah, bahkan termasuk firqah yang sesat dan binasa, karena firqah an-najiyyah (yang selamat) adalah penyeru kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, sekalipun mereka adalah Jama’ah di sini atau Jama’ah di sana, tujuan dan aqidah mereka adalah satu. MAKA TIDAK MASALAH BAHAWA YANG INI BERNAMA ANSHARUS-SUNNAH, DAN YANG INI BERNAMA AL-IKHWAN AL-MUSLIMUN, dan yang itu bernama anu, yang penting aqidah dan amal mereka, jika mereka istiqamah atas Al-Haq dan atas TauhiduLLAAH dan Ikhlas kepada-NYA dan mengikuti RasuluLLAAH SAW perkataan, perbuatan dan aqidah maka NAMA APAPUN TIDAK MENJADI MASALAH. Tetapi wajib bagi mereka bertaqwa kepada ALLAAH SWT dan benar dalam ketaqwaannya, ADAPUN SEKALI LAGI BAHAWA SEBAHAGIAN MEREKA DISEBUT ANSHARUS-SUNNAH DAN SEBAHAGIAN LAGI DINAMAKAN AS-SALAFIYYUN ATAU DINAMAKAN AL-IKHWAN AL-MUSLIMUN atau disebut dengan nama Jama’ah anu, tidak menjadi masalah jika mereka benar, istiqamah atas Al-Haq, mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah dan berhukum kepada keduanya serta istiqamah atas keduanya aqidah, perkataan dan perbuatan. Dan jika Jama’ah tersebut salah dalam sesuatu masalah maka wajib bagi ahlul ‘ilmi untuk memperingatkan dan menasihatinya kepada Al-Haq jika dalilnya sudah jelas.
والمقصود: أنه لا بد أن نتعاون على البر والتقوى ، وأن نعالج مشاكلنا بالعلم والحكمة والأسلوب الحسن ، فمن أخطأ في شيء من هذه الجماعات أو غيرهم مما يتعلق بالعقيدة ، أو بما أوجب الله ، أو ما حرم الله نبهوا بالأدلة الشرعية بالرفق والحكمة والأسلوب الحسن ، حتى ينصاعوا إلى الحق ، وحتى يقبلوه ، وحتى لا ينفروا منه ، هذا هو الواجب على أهل الإسلام أن يتعاونوا على البر والتقوى ، وأن يتناصحوا فيما بينهم ، وأن لا يتخاذلوا فيطمع فيهم العدو .
Yang dimaksudkan adalah wajib bagi mereka saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa serta mengubati permasalahan kita dengan ilmu, hikmah dengan uslub yang baik. Barangsiapa yang tersalah dalam hal apapun di antara Jama’ah-jama’ah ini atau juga pada selain mereka dalam masalah aqidah atau dari apa yang diwajibkan ALLAH atau dari apa yang diharamkan ALLAAH maka hendaklah dinasihati berdasarkan dalil-dalil syar’iyyah DENGAN CARA YANG LEMAH-LEMBUT, BIJAKSANA dan USLUB YANG BAIK hingga mereka kembali kepada kebenaran dan sampai mereka boleh menerimanya dan jangan sampai mereka lari daripadanya, maka hal ini adalah wajib bagi semua orang Islam untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa dan untuk saling menasihati di antara mereka dan agar tidak dicaci-maki sehingga mengakibatkan terjadinya permusuhan.
(bersambung)
Tuesday, March 31, 2009
JIKA ANDA INGIN MENJALIN HUBUNGAN DENGAN ALLAH, PERBAHARUILAH TAUBAT (3)

Wahai akhi, ini semua tidak akan terjadi kerana dia senantiasa membawa semangat bertaubat. Kerana itulah, wahyu berikut diturunkan: "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berduyung-duyung. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat." (An-Nashr: 1-3)
Ketika solat, dalam ruku' dan sujud baginda membaca:
Baginda saw. juga pernah bersabda:
"Wahai manusia ! Bertaubatlah kepada Allah. Demi Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali."
Bekal dan senjatamu untuk mencegah kejahatan dan memerangi syaitan adalah taubat. Jika anda berpegang teguh dengannya, anda akan meningkat dari tingkatan orang-orang yang lalai kepada tingkatan orang-orang yang ingat dan termasuk di dalam lindunganNya.
"Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagi kalian terhadap mereka." (Al-Hijr: 42)
Apakah taubat itu dan bagaimana kita patut bertaubat?
Taubat adalah pintu masuk dan pelita yang menerangi jalan anda menuju Allah. Dia telah memerintah, melarang dan memperingatkanmu.
Langkah pertama: Hendaklah anda menyedari bahawa anda telah melakukan kelalaian dan kesalahan, serta telah menyia-nyiakan kewajiban terhadap Allah swt. Anda orang yang paling tahu tentang diri anda sendiri, sedangkan Allah lebih tahu tentang diri anda daripada anda sendiri. Sedarilah bahawa anda makhluk yang lemah, sedangkan Allah swt Maha Kuat; anda adalah pihak yang memerlukan, sedangkan Allah swt pemilik kurnia; anda pelaku dosa, sedangkan Allah swt Yang Benar.
Dosa ini akan menjauhkan anda dariNya serta akan memindahkan anda dari daftar hamba-hamba Allah yang muqarrabin (didekatkan kepada Allah) ke daftar para mudznibin (pelaku dosa); dari daftar para mahbubin (orang yang dicintai) ke daftar para mahquqin (orang dimurkai); dari daftar para muhsinin (orang yang berbuat baik) ke daftar para musi'in (orang yang berbuat jahat). Jika anda mengingat semua itu, akan datanglah penyesalan, barangkali sampai menangis. Rasulullah saw bersabda:
"Beruntunglah orang yang matanya menangis kerana takut kepada Allah."
Alangkah beruntung dan berbahagianya anda. Allah juga bergembira melihat taubat ini, sebagaimana seorang ibu bergembira ketika menjenguk anaknya. Suatu ketika seorang wanita berlalu di hadapan Rasulullah saw, sedangkan anaknya berada di tangannya. Nabi saw bersabda:
Perasaan, kesedaran, penyesalan, tekad dan keinginan; itulah taubat sejati. Dalam hadis disebutkan bahawa: "Taubat adalah tekad." Hadis ini menyebutkan bahagian pertengahan, iaitu tekad kerana tekad itu muncul dari kesedaran dan penyesalan dan akan melahirkan kehendak. Maka Rasulullah saw jadikannya sebagai rukun yang paling kuat.
Wahai akhi, anda akan dapati masalah taubat di banyak surah di dalam al-Quran. Anda akan dapati ia disebut bermula dari Surah al-Baqarah sampai ke Surah an-Nashr.
Dalam Surah al-Baqarah anda akan bertemu dengan firmanNya: "Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah: 37)
Allah permudahkan bagi umat Muhammad saw untuk bertaubat....
Firmannya: "Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah diri kamu. Hal itu adalah lebih baik bagi kamu di sisi Tuhan yang menjadikan kamu. Maka Allah akan menerima taubat kamu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah: 54)
Dalam ketentuan umat-umat terdahulu, untuk bertaubat mesti ada korban. Adapun anda, cukup bertaubat dengan gerakan hati dan perasaan. "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Al-Baqarah: 286)
Anda boleh merujuk pada ayat-ayat berikut: Ali-Imran: 135-136, An-Nisa': 17, Al-Maidah: 39, At-Taubah: 117, At-Tahrim: 8, An-Nashr: 3, Al-Baqarah: 222.
Mohonlah pertolongan Allah untuk menjadikan kita orang yang gemar kepada taubat...
Jika Allah tidak menghendaki anda bertaubat, nescaya Dia tidak akan mengilhamkan kepada anda untuk bertaubat. Jika anda kembali kepada Allah dengan bertaubat, maka itu merupakan petunjuk bahawa Dia mencintai anda. "Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya." (At-Taubah: 118)
Dalam doa sayyidul istighfar, Rasulullah saw berdoa:
"Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Engkau telah menciptakan diriku, sedangkan aku adalah hamba-Mu dan aku berada di atas perjanjian-Mu sehabis kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan perbuatanku. Aku mengakui nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku, kerana tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau."
Nabi saw pernah bersabda: "Barangsiapa mengucapkannya pada pagi hari dengan penuh keyakinan, kemudian pada malam harinya meninggal dunia, nescaya dia masuk syurga. Dan barangsiapa mengucapkannya pada petang hari dengan penuh keyakinan, kemudian pada siang hari itu dia meninggal dunia, maka dia masuk syurga."
Semoga solawat dan salam dilimpahkan kepada Sayyidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan para sahabatnya.
Monday, March 30, 2009
JIKA ANDA INGIN MENJALIN HUBUNGAN DENGAN ALLAH, PERBAHARUILAH TAUBAT (2)

Allah swt. telah mengutus seorang Rasul untuk menjelaskan kepada anda apa yang baik dan apa yang buruk bagi anda. Allah juga menciptakan musuh yang sentiasa bersiap siaga, iaitu iblis yang telah bersumpah untuk menjerumuskan anda kepada keburukan. Firman Allah bermaksud: "Kemudian aku (iblis) akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." (Al-A'raf:17)
Anda dihadapkan kepada dua kekuatan ini. Jika kekuatan roh menang, anda naik ke alam Al-Malaul A'la, akan tetapi jika kekuatan benda -berunsur tanah- menang, anda jatuh hingga ke martabat yang serendah-rendahnya. Firman Allah bermaksud: "Maka sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Asy-Syams:9-10)
Taubat adalah timbangan yang menguatkan dan tangga yang untuk meningkatkan kebaikan. Para hukama' mengatakan: "Seluruh maqam mempunyai awal dan akhir kecuali taubat. Ia senantiasa menyertai seseorang sejak dari awal hingga akhirnya. Jika anda terseret oleh kekuatan jahat, boleh jadi anda mendapatkan ilham untuk bertaubat sehingga kembali sebagaimana keadaan sebelumnya, atau anda terdorong untuk terus melakukan kemaksiatan dan tetap pada kejahatan sehingga anda kalah dalam pertarungan."
Firman Allah bermaksud: "Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurut hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia mengulurkan lidahnya (juga)." (Al-A'raf:176)
Adapun orang yang terjerumus, jatuh dan cenderung kepada daun timbangan kejahatan, sedangkan tali yang menghubungkannya dengan kebaikan hampir terputus, akan tetapi dia menyedari kesalahan dan bertaubat, segera berdiri dengan penuh rasa takut, tunduk, taubat dan menyesal, maka dia akan pulih kembali kepada posisinya semula, bahkan daya tahannya semakin kuat sehingga dirinya semakin dekat dengan kebaikan.
Itu telah diisyaratkan oleh Allah di dalam surah Ali-Imran:135-136.
Jika seseorang itu tekun bertaubat, terus menerus mengingat dan melaksanakannya, maka akan tumbuh di dalam dirinya daya kewaspadaan. Jika syaitan datang membisik dan menggoda supaya mengikutnya, dia segera sedar, tetap pada pendiriannya dan takut kepada perintah Allah. Bacalah Surah Al-A'raf:201.
Jika dia terus memegang teguh taubat, maka syaitan akan putus harapan terhadapnya, kerana dia telah melindungi diri dengan kewaspadaan; diri, perasaan dan rohnya telah disinari oleh hakikat pengetahuan yang benar selain ketaatan. Ketika itulah dia berada dalam lindungan Allah.
JIKA ANDA INGIN MENJALIN HUBUNGAN DENGAN ALLAH, PERBAHARUILAH TAUBAT (1)

Izinkan saya berbicara dengan saudara tentang taubat. Semoga Allah menurunkan rahmat dan ketenanganNya kepada kita sekalian.
Allah swt. berfirman yang bermaksud: "Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali pertama. Kamu tiada menyangka bahawa mereka akan keluar dan mereka pun yakin bahawa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang mereka tidak sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan." (Al-Hasyr:2)
"Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (iaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang daripada dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, 'Janganlah kamu berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita.' Maka Allah menurunkan ketenanganNya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentera yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimah Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." At-Taubah:40)
Lihatlah ketika pertolongan Allah datang, maka tiada kuasa pun boleh menggagalkannya. Kemudian Allah memberi kasih sayang dan rahmatNya. Betapa perlunya kita bertaubat dengan taubat nasuha (taubat sebenar).
Manusia dipengaruhi oleh dua kekuatan: kekuatan rohani dan kekuatan jasmani. Anda adalah makhluk rohani dengan roh yang anda miliki, tetapi juga makhluk jasmani dengan badan yang membungkus anda. Justeru itu anda boleh saja dipengaruhi oleh kedua-keduanya sama ada ke arah kebaikan atau kejahatan. Anda adalah makhluk spiritual dengan rahsia firman Allah bermaksud: "Dan telah Ku tiupkan padanya roh-Ku." (Shad:72)
Pada saat yang sama anda juga makhluk bersifat material dengan rahsia firman Allah bermaksud: "Dan Engkau ciptakan dia dari tanah." (Al-A'raf:12)
Ini adalah penciptaan manusia pertama kali dahulu. Masing-masing dari keduanya mempunyai tuntutan, keinginan, permulaan dan akhir yang berbeda dari yang lain, sedangkan anda maju mundur di antara keduanya. Sekarang anda fahami firman Allah bermaksud: "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan." (Al-Balad:10)
Anda berada di pertengahan. Roh menarik anda ke alamnya yang tinggi, sedangkan material menarik anda ke alamnya (tanah) yang rendah.